BANG DASCO; yang Saya Kenal

Sufmi Dasco Ahmad (Istimewa/garudayaksa.com)

Oleh: Ricky Tamba

SAYA lupa awal mengenal Bang Dasco. Pada 2002, mungkin. Kami kerap nongkrong berdua, bahkan beliau pernah mengajak saya nonton film Bollywood (yang mungkin kegemarannya saat itu). Bang Dasco tetap ingat kebiasaan saya membawa air mineral botol besar hingga saat ini.

Pada 2004, kami dengan Pendeta Nathan Setiabudi (mantan Ketua Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia/ PGI), serta para aktivis dan tokoh agama membicarakan suksesi pemerintahan. Kami sepakat agar Gus Sholah (K.H. Salahuddin Wahid) dapat maju menjadi cawapres. Bersama Bang Dasco, kami pergi membujuk Gus Sholah agar mau menjadi cawapresnya Pak Wiranto.

Sebenarnya saya adalah bagian kecil dari aktivis cum politisi yang tak senang tampil di media massa dan sosial. Pun tak gemar membuat tulisan puja-puji dan atau memamerkan kedekatan dengan para tokoh nasional karena tak mau dianggap menjilat dan cari muka. Apalagi mengkapitalisasinya menjadi keuntungan pribadi, yang bisa jadi dianggap naif banyak orang.

Saya lebih senang bekerja dalam keheningan dan menjauh dari keramaian seremonial hingar-bingar pentas politik. Baru belakangan ini saja, saya mulai main media sosial, untuk menyebarkan gagasan dan berkomunikasi dengan jejaring aktivis dan politisi.

Mungkin ini jadi salah satu latar yang membuat ada persamaan gaya kerja dengan senior saya yang bernama lengkap Sufmi Dasco Ahmad tersebut, yang lebih senang di belakang layar dan sulit diwawancarai media massa (bahkan postingan akun media sosialnya tak di-maintain rutin seperti gaya kekinian politisi papan atas). Hal yang langka bila tiba-tiba Bang Dasco mem-posting foto dan kegiatannya, apalagi sampai muncul komentarnya di media massa, yang sangat menyemangati dan mengobati rasa rindu jejaringnya.

Kami terkadang bersama, tetapi pernah beberapa kali bertahun-tahun tak bertemu. Walau kerapkali rasa kangen itu muncul dan di beberapa momentum pasti kami bertemu lagi.

Saya pernah diundang Bang Dasco saat beliau membuka kantor hukumnya (kalau tak salah ingat di daerah Kramat Raya, Jakarta Pusat), puluhan tahun lalu. Juga beberapa kali diminta membereskan beberapa pekerjaan. Selebihnya saya berkelana mencari pengalaman, memperluas jaringan sambil menyelami kerasnya kehidupan di luar dunia politik.

***

Bang Dasco dahulu dan sekarang tak banyak berubah. Perbedaannya adalah status anggota DPR RI dan jabatan wakil ketua umum DPP Partai Gerindra yang kini melekat di pundaknya. Dalam hal keseharian, beliau tetap seorang senior yang peduli dan sayang dengan para juniornya, walau berbeda organisasi dan kepentingan politik. Tanpa pamrih.

Saat pernah menyepi jauh di Lampung, saya kerap mendapatkan kabar positif bahwa Bang Dasco sehat selalu dan senantiasa menjaga persahabatan dengan banyak aktivis dan politisi yang merupakan sahabat-sahabat lama saya. Hal ini menyenangkan karena seorang tokoh ketika semakin hebat biasanya lebih senang bergaul dengan para “pesohor politik” dan cenderung melupakan teman-teman lamanya.

Bang Dasco bukan tipe orang yang mengekang teman dan juniornya, terlebih yang pernah merasakan kebaikan hatinya.

Beliau sepertinya suka dengan orang yang mampu bergerak cepat dan mandiri. Juga senang pada orang yang tegas dalam prinsip dan luwes pergaulan. Jarang saya dengar beliau bermusuhan, berkata negatif atau benci pada seseorang. Sepertinya dari Sabang sampai Merauke selalu ada yang merasa menjadi bagian dari “Pasukan Komandan SDC”, inisial favorit baginya.

Bang Dasco yang saya kenal, orangnya tegas dan teliti. Cenderung perfectionist, dan tak suka bila ada yang menyerah di awal mendapatkan sebuah tugas. Baru pada 2017 akhirnya saya berada di gerbong yang sama yakni di Partai Gerindra, walau 2008-2009 saya pernah nongkrong di Brawijaya dan Bidakara, hingga ikut deklarasi akbar di Gelora Bung Karno (GBK) Senayan.

Konsistensi seruan kebangsaan Pak PS08, juga keberadaan Bang Dasco dan Bang Habiburokhman di Partai Gerindra-lah yang membuat saya kepincut melanjutkan perjuangan kerakyatan dengan menjadi kader aktif sebuah partai politik.

Saya kembali ke dunia politik Jakarta dengan merajut ulang berbagai jaringan serta sowan silaturahim ke para sahabat lama dan para senior selama setahun lebih sejak 2017. Tiba-tiba, Agustus 2018, saya mendapat telepon dari Bang Dasco untuk memperkuat barisan Gerakan Nasional Prabowo Presiden (GNPP) serta mulai September 2018 diperintah menjadi Kepala Sekretariat Direktorat Advokasi dan Hukum Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi yang dinakhodai Bang Dasco dan Bang Habiburokhman (caleg DPR RI terpilih 2019 dari Partai Gerindra dapil Jakarta Timur/ ACTA).

Awalnya saya agak khawatir karena tahu tingkat komitmen dan dedikasi standar kerja Bang Dasco, tetapi setahun ini saya justru mendapatkan banyak pengalaman dan ilmu baru berkat meningkatnya frekuensi berkomunikasi dengan beliau. Alhamdulillah.

Bang Dasco adalah militan garis keras Pak PS08 (inisial favorit saya untuk Ketua Umum Partai Gerindra Pak Prabowo Subianto). Saya tak pernah bertanya, tetapi yang saya tahu Bang Dasco sudah kenal Pak PS08 sejak 1990-an, sehingga tak mengherankan bagi saya bila masukannya sangat dipercaya Pak PS08. Beliau kerapkali mendapatkan tugas khusus yang bisa jadi dianggap rumit bagi orang lain. Hal inilah kelebihan lain Bang Dasco, yakni mampu menyelesaikan masalah (problem solver) tanpa melukai hati orang lain yang mungkin sedang berseteru. Bahkan akhirnya “lawan” dapat menjadi sahabatnya.

Makanya saya heran, apabila belakangan ini banyak suara sumbang, nyinyir, dan cenderung berkampanye hitam (black propaganda) terhadap figur Bang Dasco. Bahkan berani melontarkan fitnah ke Bang Dasco dengan mengklaim nama beberapa tokoh nasional yang sangat dihormati beliau. Menyedihkan, ini pathetic, istilah baratnya.

Padahal, sejak awal Sekretariat BPN Advokasi Hukum berjalan, Bang Dasco selalu mengajarkan kepada kami untuk bergerak dalam koridor hukum, senantiasa hormat kepada para relawan dan pendukung Prabowo-Sandi, mengutamakan kampanye positif berbasis visi-misi pasangan calon, serta selalu menjaga suasana kebatinan partai koalisi 02 dan pihak kompetitor.

Dalam berbagai peristiwa penangkapan ulama, relawan 02, dan simpatisan Gerindra, Bang Dasco selalu memerintahkan agar membantu dan melakukan upaya advokasi hukum serius. Tak boleh ada yang neko-neko mengambil keuntungan apapun karena merupakan kewajiban kader Gerindra.

Yang menakjubkan adalah saat Bang Dasco pasang badan untuk Pak PS08 dengan menjadi penjamin ratusan ulama, relawan 02, dan simpatisan Gerindra yang ditangkap dan ditahan. Saat banyak yang bersuara nyaring di media sosial tak pernah muncul. Belakangan ratusan orang dalam insiden Bawaslu 21-22 Mei, menjadi terdakwa di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dll.

Oleh Bang Dasco, rekan-rekan tetap diminta mengadvokasi walaupun BPN sudah dibubarkan. Bahkan dari awal terbentuk, kekuatan BPN Advokasi Hukum bergerak dengan biaya dari kocek pribadi Bang Dasco sampai sekarang, termasuk sewa posko di Jalan Cokroaminoto, Menteng, agar dekat dengan KPU dan Bawaslu.

Sufmi Dasco Ahmad (kiri) dan Prabowo Subianto (kanan) (Istimewa/Dok. PemiluUpdate.com)

***

Kemarin saya mendapat perkembangan opini di media massa dan media sosial pasca pertemuan MRT Pak PS08 dengan Pak Jokowi, pertemuan Teuku Umar antara Pak PS08 dengan Ibu Megawati Soekarnoputri, kehadiran Pak PS08 ke Kongres V PDI Perjuangan, hingga pro-kontra atas pernyataan penumpang gelap di Pilpres 2019, juga adanya tuduhan miring bahwa Bang Dasco mengincar jabatan menteri.

Beliau berkata tegas dan dengan gaya guyonan bilang, “Biarin-lah. Fitnah jadi pahala buat gue. Usaha dan duit gue sudah cukup, belum lagi sibuk urus partai, nggak sempat lagi gue jadi menteri. Tawaran jadi menteri sudah ada, tetapi gue tolak. Lu, tahu nggak, jadi menteri diawasi anggota DPR, turun pangkat. Yang pasti kita berjuang saja bantu Pak Prabowo.”

Itulah Bang Dasco yang saya kenal. Bang Dasco yang selalu patuh pada perintah Pak PS08, berdiri membela kaum ulama, para relawan dan simpatisan, serta senantiasa bekerja tanpa butuh popularitas dan sanjungan. Sebuah pribadi unik yang menjadi salah satu mentor politik terdekat saya, tempat saya menyerap banyak ilmu dan pengalamannya.

Bagaimana arah perjuangan kebangsaan ke depan? Bagi kami, Gerindra tegak lurus satu komando. Penumpang gelap enyahlah. Mari stop politik kebencian, saling fitnah, dan berbagai upaya adu domba yang merugikan bangsa Indonesia. Ayo, kita bersama berjuang untuk kejayaan Merah Putih, NKRI, dan Pancasila. Demi Indonesia Raya tercinta. []


*Penulis
adalah aktivis ’98 dan kader Partai Gerindra


[WhatsApp REDAKSI, IKLAN, & KERJA SAMA: 0813.1703.6688. Email: pemiluupdate@gmail.com]

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here