Siapa Peduli Keadilan dan Kejujuran Pemilu?

Warga salurkan hak pilihnya di TPS (Ridwan Ewako/PemiluUpdate.com)

Oleh: Teuku Syahrul Ansari

HASIL penghitungan suara yang dipublikasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) melalui situs web pemilu2019.kpu.go.id sejak 17 April 2019 tak pernah berubah posisi perolehan suara kedua kontestan Pemilu Presiden-Wakil Presiden (Pilpres) 2019.

Hingga Kamis (2/5/2019) pukul 11.14 WIB, Pasangan Calon (Paslon) Presiden Joko Widodo atau Jokowi-Wakil Presiden Ma’ruf Amin (nomor urut 01) menungguli lawannya, Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno (nomor urut 02). Paslon nomor urut 01, petahana, menguasai 56,08 persen perolehan suara dari 61.26 persen rekapitulasi penghitungan suara di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Sementara Paslon nomor urut 02, penantang, meraih 43,92 persen.

Komposisi perolehan suara kedua kontestan pilpres diprediksi kuat tidak bakal berubah. Komposisi tersebut tampak jelas –berdasar gelombang kesalahan input data yang mendongkrak suara 01 dan menyunat perolehan 02– disesuaikan dengan hasil hitung cepat (quick count) lembaga survei “pro Jokowi”.

Bagaimana reaksi pihak Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga? Terjadi tarik-menarik. Satu pihak masih percaya proses pleno penghitungan suara di tingkat kecamatan dan kabupaten. BPN, berdasar data formulir C1 yang dimilikinya, yakin sebagai pemenang pilpres. Prabowo-Sandiaga adalah dwitunggal pemimpin lima tahun ke depan, menggantikan Jokowi-Jusuf Kalla.

Pihak kedua, berdasar kecurangan terstruktur, sistematis, dan masif (TSM) yang dilakukan elemen pemerintah dan KPU maka tertutup peluang Prabowo-Sandiaga diputuskan sebagai pemenang pilpres. Prabowo kembali kalah di ajang kontestasi pilpres.

Tuntutan penegakan hukum, keadilan, dan moral kini berada di titik nadir. Contohnya; seorang menteri yang masih menjabat memberikan amplop kepada warga dalam locus delictus pemilu. Taji hukum tak menyentuh sang menteri.

Berbeda bila warga biasa yang melakukan. Atau jajaran kubu Prabowo-Sandiaga. Beberapa person barisan nomor urut 02 mendekam di hotel prodeo. Sebaliknya, “hukum tersungkur” jika berhadapan dengan pihak petahana. Kondisi ini sangat kasat mata.

Negara tercinta diurus secara asal. Barisan penguasa mempertontonkan perlakuan curang dan ketidakadilan yang luar biasa.

Teuku Syahrul Ansari (Istimewa/Dok. PemiluUpdate.com)

Tak kalah menyedihkan, sebagian kalangan intelektual terbawa arus perilaku politik praktis yang jauh dari tuntutan perlunya menghadirkan kejujuran. Kepentingan pribadi dan keuntungan material tertentu berbicara.

Mereka tidak peduli bahwa mengedepankan keadilan dan kejujuran dalam pemilu merupakan pondasi bagi perjalanan negara dan bangsa paling tidak lima tahun ke depan. Mereka tidak peduli nasib Merah-Putih ke depan.

Bahkan, sangat boleh jadi, di antara kedua paslon calon presiden-wakil presiden sekalipun tidak peduli atas nasib Indonesia. Bagaimana mungkin negara dan bangsa ini berjaya jika diawali oleh proses tahapan pemilu yang buruk?

Siapa peduli? []


*Penulis
adalah Chairman Bening Institute


[Email REDAKSI, IKLAN, & KERJA SAMA: pemiluupdate@gmail.com]

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here