‘The Guardian’ Sebut Jokowi Makin Redup Jelang Pencoblosan

Jokowi bersama warga Papua (Istimewa/Dok. Sekretariat Presiden)

PemiluUpdate.com – Edisi daring suratkabar Inggris The Guardian (theguardian.com) menurunkan reportase tentang elektabilitas Joko “Jokowi” Widodo, calon presiden (capres) nomor urut 01 Pemilu 2019, 4 April 2019.

Jurnalis koran yang berdiri pada 1821 ini, Kate Lamb, menyebut Jokowi sebagai “Obama Indonesia”. Namun, pujian ini tak berlanjut sebab ia melaporkan bahwa sang petahana gagal digandrungi dalam ambisinya melanjutkan kekuasaannya di periode kedua.

Jokowi sangat berbeda dengan Barack Obama, yang tetap perkasa pada babak kedua pemilu Amerika Serikat yang diikutinya. Kepopulerannnya sama sekali tak berkurang pada pemilu keduanya dibanding saat kali pertama mengikuti pemilu presiden.

Inti laporan Lamb digambarkan melalui judul yang mempertanyakan mengapa “Sang Obama” gagal mendapat simpati rakyat Indonesia menjelang puncak pemilu. Elektabilitas Jokowi terjun bebas secara kontras dibanding saat kontestasi Pemilu 2014.

Saat itu, perjalanan karir politiknya usai meninggalkan usahanya furniturnya dengan menjadi Gubernur Solo, kemudian tampil memimpin Ibu Kota Negara, DKI Jakarta, sebelum menjadi Presiden RI disebutkan sebagai dongeng politik demokrasi muda Indonesia.

Namun, semakin mendekati hari pemungutan suara pada 17 April 2019, The Guardian menyebutkan elektabilitas Jokowi justru terus memburuk. Pada Pemilu Presiden-Wakil Presiden (Pilpres) 2019 antiklimaks. Bertolak belakang dengan kondisi tingkat keterpilihannya pada 2014, yang terus memuncak menjelang hari pencoblosan.

Lamb lalu mengurai beberapa kasus yang menjadi biang antiklimaks level keterpilihan Capres yang berpasangan dengan Ma’ruf Amin, ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) nonaktif dan sesepuh Nahdlatul Ulama (NU).

Kasus eksekusi mati terhadap terpidana narkoba, penangkapan terhadap lawan-lawan politik, dan pemberangusan kebebasan berekspresi dinilai bertentangan dengan prinsip demokrasi yang menguat di negara berpenduduk hampir 270 juta jiwa ini –pasca reformasi.

Tindakan penguasa lain yang juga dipandang negatif, yakni netralitas polisi yang dipertanyakan masyarakat luas dan rencana perambahan militer di ruang sipil. Jokowi telah merusak demokrasi yang tengah menguat.

Meski demikian, masih dalam laporan dimaksud, berdasar serangkaian survei diklaim bahwa tingkat elektabilitas Jokowi masih 15 poin di atas penantangnya, Prabowo Subianto –capres nomor urut 02. Media yang berpusat di Kings Place, York Way, London, ini kemudian mengutip hasil wawancaranya dengan beberapa warga biasa yang memuji Jokowi.

“Jokowi telah membangun jalan dan sekolah. Ada buktinya,” kata Achmad, 28 tahun, pedagang sup ayam di Jakarta Selatan.

Namun, media yang didirikan oleh John Edward Raylor ini pun menurunkan sikap kalangan analis politik yang mengkritik tagline “Indonesia Maju” Jokowi. Maju ke mana?

Tagline kampanye Jokowi tahun ini adalah “Indonesia Maju”, tetapi analis politik bertanya-tanya: maju ke mana? Presiden RI ke-7 ini disimpulkan sebagai sosok kurang visioner secara ideologi. Dia membunuh semangat kebebasan berdemokrasi.

Penguasa membunuh geliat gerakan #2019GantiPresiden memakai tangan kepolisian berdasarkan dalih keamanan atau peraturan formal.

“Saya pikir ada cukup pola perilaku sekarang untuk mengatakan bahwa politisasi penegakan hukum telah dibawa ke tingkat baru di bawah Jokowi,” kata Liam Gammon, kandidat PhD di Australian National University.

Lanjutnya, “Ada beberapa tren mengkhawatirkan dalam cara penegakan hukum tampaknya sedang digunakan. Maksud saya, beberapa investigasi yang sangat dipertanyakan oleh tokoh oposisi terkemuka.”

Prabowo Subianto (Istimewa/WAG Ranups Cakra Donya)

Pengamat politik juga menunjuk revisi undang-undang tentang organisasi massa (ormas), yang ditandatangani oleh Jokowi pada 2017 untuk membubarkan ormas Hizbut Tahrir.

Sisi lain, Lamb menulis citra keras Prabowo –mantan komandan pasukan khusus dan putra seorang menteri ekonomi era Soeharto– justru melunak akhir-akhir ini. Melalui akun Instagramnya, dia beberapa kali tampil bersama kucingnya, Bobby. Namun, Capres yang berpasangan dengan mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Salahuddin Uno ini dikabarkan memiliki hubungan yang kelompok garis keras Islam. []LMC


[Email REDAKSI, IKLAN, & KERJA SAMA: pemiluupdate@gmail.com]

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here