JENNI RETNO; Karena Prabowo Seksi

Prabowo Subianto dan Jenni Retno (Istimewa/Dok. PemiluUpdate.com)

PemiluUpdate.com – Mengapa meninggalkan dunia perbankan dan keuangan lalu terjun ke gelanggang politik? Pertanyaan ini umumnya diajukan kepada Jenni. Mengapa ia, Jenni Retno Mamusung, mengubur karirnya di Panin, yang tengah bersinar?

Pertanyaan berikut adalah mengapa bergabung ke Partai Gerindra dan kini mencoba peruntungan sebagai calon legislator (caleg) DPRD Jawa Barat pada Pemilu Legislatif (Pileg) 2019? Apa yang dikejar?

Pertanyaan tersebut wajar saja. Pasalnya, Jenni berhasil mencatatkan diri sebagai salah seorang business partner Panin terbaik dalam sepuluh tahun terakhir kemitraannya. Agensi yang dipimpinnya merupakan salah satu mitra terbaik bank swasta nasional itu.

Capaian itu tidak datang tiba-tiba. Usai menyelesaikan studi S1 di IKIP Bandung –kini Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung– pada 1987, perempuan yang senantiasa tampil dengan potongan rambut pendek bekerja di OCBC NISP (sebelumnya bernama NISP). Di sini, manajemen memastikan kemampuan besar Jenni di bidang pemasaran. Diapun ditempatkan di divisi marketing.

Selanjutnya, Jenni dibajak Bank Umum Nasional (BUN). Kepercayaan diberikan manajemen, ia memperoleh beasiswa business master di lembaga pendidikan tinggi yang dibesut ekonom Kwik Kian Gie.

Usai di BUN, Jenni berkiprah di Panin. Sebagai sosok potensial, perusahaan menyekolahkan Jenni di Australia. Di samping itu ada beberapa pelatihan lain. “Beasiswa kuliah dan sejumlah pelatihan yang saya terima all about financial planner,” tutur Jenni kepada PemiluUpdate.com di Bandung, beberapa waktu lalu.

Ketekunan dan kerja keras membuahkan hasil yang sepadan. Tantangan dan tanggung jawab yang diembankan perusahaan dijawab dengan kinerja maksimal, sesuai target perusahaan.

“Saya mencapai puncak karir di Panin. Dalam 10 tahun terakhir, prestasi saya benar-benar di puncak. Saya menjadi partner terbesar di Panin,” tutur politikus Partai Gerindra yang beralamat di Kelurahan Gumuruh, Kecamatan Batununggal, Bandung.

Kinerja mumpuni itu membawa Jenni berada di tengah asosiasi profesi financial planner global. Jenni merupakan salah seorang perwakilan perbankan Indonesia yang berada di Million Dollar Round Table (MDRT), momentum penghargaan bergengsi oleh The Premier Association of Financial Professionals (Asosiasi Premier Profesional Finansial), berpusat di Illinois, Amerika Serikat.

Tak mudah berhimpun di asosiasi yang beranggota pelaku industri keuangan hampir 100 negara tersebut. “Asosiasi itu berkantor pusat di Amerika Serikat. Orang-orang yang terdaftar harus memiliki level remunerasi tertentu setiap tahun. Syukur, saya termasuk wakil Indonesia di sana,” papar Jenni.

Jenni Retno (Istimewa/Dok. PemiluUpdate.com)


Ingin Menjadi Guru

Sebagai alumnus UPI, Fakultas Filsafat dengan spesialisasi Psikologi Pendidikan, Jenni awalnya bercita-cita mengabdikan diri sebagai pendidik alias guru. Usai wisuda, dia tak berencana berkarir di sektor perbankan. Jenni lalu melamar ke beberapa sekolah, sebagai calon guru BP (bimbingan dan penyuluhan) sesuai bidang keilmuan yang digelutinya di UPI.

“Sejak SMP, saya tersadarkan bahwa adik ada enam. Kebayang biaya sekolah mereka. Saya bicara ke ibu, ingin cepat bekerja. Supaya bisa bantu orang tua cepat, saya masuk SPG (Sekolah Pendidikan Guru) saja. Kalau SPG, kan, bisa langsung menjadi guru,” Jenni menceritakan percapakannya dengan ibunya, suatu hari.

Apa reaksi sang ibu? “Ibu saya marah. Ia bilang jangan menghina orang tua kamu, walaupun usaha Bapak sedang susah. Kewajiban kamu harus sarjana. Pikirkan kuliah dan bagaimana menyelesaikannya,” Jenni menambahkan.

Padahal, keluarga sang ibu di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat (Jabar), boleh dikatakan sebagian besar pendidik berbagai jenjang. Ada guru sekolah dasar hingga perguruan tinggi.

Apa yang terpikirkan tentang sosok seorang guru? Sederhana saja, rupanya. Tiada argumen muluk-muluk seputar sosok guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa yang menentukan maju atau tidaknya peradaban bangsa, Jenni hanya termotivasi oleh jumlah adiknya. Dia ingin turut segera mengasuh dan membimbing mereka, membantu orang tua.

Terlepas dari hal itu, bakat kepemimpinan terpatri pada diri seorang Jenni. Dalam keluarga besarnya, ia menjadi figur yang senantiasa diajak diskusi mengenai berbagai hal dalam keluarga besarnya. Bobotnya melebihi kedua kakak kandungnya, walaupun ia perempuan.

Walaupun batal masuk SPG, Jenni tetap melamar lowongan guru pasca kelulusan di UPI. Berprestasi di semua jenjang pendidikannya, kata dia, ternyata tak memikat sekolah yang didatanginya untuk merekrutnya sebagai guru.

“Penampilan saya mungkin tidak cocok di lingkungan sekolah,” ucap Jenni seraya tertawa. Penampilan yang dimaksud tiada lain pilihannya yang senang berdandan rada modis.

Burhanuddin Abdullah (kiri) isi diskusi. Jenni Retno (kanan) moderator (Ridwan Ewako/PemiluUpdate.com)


Sosok Prabowo

Suatu hari Jenni menyaksikan iklan Prabowo Subianto selaku Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) di televisi. Entah sebab apa, sosok Prabowo langsung menempel di kepala pemudi ini.

Seiring waktu, saat masih sebagai bankir di Panin, ia menangani account Hashim Djojohadikusumo, adik Prabowo. Suatu hari, Jenni bersama salah seorang keluarganya bertemu Hasyim. Dalam obrolan santai, Jenni sempat mengatakan dirinya yang memegang rekening Hasyim.

Setelah berbincang berbagai topik, Hasyim tiba-tiba mengatakan Gerindra membutuhkan banyak politikus perempuan. Dia lalu menawarkan ke Jenni.

“Gerindra kurang kader perempuan, kata Pak Hasyim. Kamu saja, ya? Waktu itu, 2011. Saya kontan meng-iya-kan saja. Tetapi itu jawaban selintas saja,” kata Jenni, karenanya usai pertemuan dirinya tetap sibuk dengan tugas sehari-hari di Panin.

Berbulan usai pertemuan, Jenni dihubungi saat dinas ke luar negeri. Ia diminta segera melengkapi berkas sebagai kader partai guna pencalonan pada pemilu legislatif. Lagi-lagi ketika itu ditanggapinya santai. Sampai kejadian itu berulang, masih saat menjalankan tugas sebagai utusan Panin di mancanegara, ia kembali ditelepon.

Akhirnya, Jenni resmi menjadi calon legislator pada Pemilu 2013. Keputusan bulatnya ke politik disertai pengunduran diri dari Panin. Sejak itu, Jenni berkiprah penuh di arena politik.

Pada Pemilu 2013, Jenni gagal menembus persaingan masuk ke lembaga legislatif. Suara yang dihimpunnya masih kurang. Namun, sikapnya yang senantiasa total ketika menjatuhkan pilihan membuat dirinya bergeming di Gerindra.

“Terakhir saya di Panin ketika karir tengah di puncak-puncaknya. Saya lalu memutuskan ke politik, dari profesional ke politik yang mengurusi orang banyak, masyarakat. Pilihan ini bukan iseng-iseng berhadiah. Saya selalu total,” tandas Jenni, yang tetap di politik meskipun gagal pada Pemilu 2013.

Mengapa? Ditanya demikian, Jenni tangkas menjawab, “Saya orangnya loyal. Waktu di Panin, saya ditawar beberapa bank lain untuk pindah. Tentu dengan tawaran menggiurkan. Saya tolak. Saat di politik, saya juga berusaha loyal ketika menghadapi berbagai tantangan.”

Dikatakan, ia sejak awal kepincut pada sosok Prabowo, pendiri Gerindra yang kini masih memimpin sebagai ketua umum. Jenni kagum pada visi kebangsaan dan kecerdasan Prabowo. Kesimpulan ini diperolehnya dari beberapa kali diskusi langsung dirinya dengan Prabowo awal-awal perkenalannya di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jabar.

“Saya mengatakan ini bukan sebab kader Gerindra. Visinya tentang Indonesia ke depan luar biasa. Beliau sungguh cerdas. Saya pernah membawa rombongan berdiskusi di Hambalang. Delapan orang bertanya. Kedelapan pertanyaan dan namanya dihafal, tanpa moderator dan catatan. Ini salah satu yang membuat saya menilainya Pak Prabowo itu seksi. Menurut saya, pria itu seksi bila cerdas,” papar Jenni lagi.

Jenni Retno promosikan pola hidup sehat (Istimewa/Dok. PemiluUpdate.com)


Misi di Jawa Barat

Menjadi insan partai politik (parpol), Jenni kini bertemu dengan lingkungan yang kontras dengan dunianya di lembaga keuangan. Sebagai financial planner, ia keliling dunia bergaul dengan kalangan jetset. Lingkungan bisnis dan perbankan itu sungguh berbeda dengan kondisi warga di daerah pemilihan (dapil) Jabar II: Kabupaten Bandung.

Diungkapkan, kondisi lingkungan permukiman yang jauh di bawah standar layak ditemuinya saat bertemu dengan warga. Selain masalah kelayakan dari sisi kesehatan, menurut Jenni, kesemrawutan penataan permukiman menjadi utang berat pemerintah.

“Sampah berserakan di mana-mana, berarti kita sudah berada di halaman rumah kita. Saya concern dengan persoalan seperti ini. Tidak peduli apakah tema seperti ini kurang layak jual dalam kampanye. Mari jaga kebersihan, ajakan ini terdengar klise. Bagi saya, soal ini merupakan PR berat kita buat warga kebanyakan,” papar Jenni.

Soal lain, tambahnya, seputar ledakan penduduk. Bukan cuma di Kabupaten Bandung, daerah lain di Jawa Barat, kini kurang peduli pada upaya pembatasan angka kelahiran. Padahal ledakan penduduk pasti menjadi kendala dalam pemerataan kemakmuran. Masalah satu ini pun kerap dihindari para calon legislator (caleg) dalam kampanye sebab dinilainya kurang seksi.

Mengenai soal tingginya angka pengangguran, Jenni berbeda dengan kebanyakan caleg. Bila yang lain umumnya menyebutkan pemberdayaan UMKM, caleg nomor urut 4 ini lebih menitikberatkan pada masalah bagaimana meningkatkan daya beli masyarakat.

“Percuma mencetak pengusaha UMKM mandiri jika produksinya nanti tidak terserap pasar karena daya beli masyarakat rendah,” tegas Jenni, yang siap mengerahkan pengalaman dan pengetahuannya di lembaga keuangan guna menghadirkan solusi atas masalah ekonomi di dapilnya.

Apakah yakin bakal duduk sebagai anggota DPRD Jabar periode 2019-2024? Mendapat pertanyaan ini, Jenni terdiam sejenak. Dia menyatakan dirinya cuma bisa berjuang, ia tak kuasa memastikan hasilnya. “Saya selalu optimis,” sela Jenni, yakin. []BIH


BIO DATA

Nama lengkap: Jenni Retno Mamusung
Tempat lahir: Bandung
Tanggal lahir: 31 Januari 1962
Suami: Antonius Riatanno S. Mamusung
Anak: 3 (tiga)
Alamat: Jl. Aquarius No. 13, Bentang Asri, Kelurahan Gumuruh, Kecamatan Batununggal, Bandung

Pendidikan:
Fakultas Filsafat & Sosiologi Pendidikan, IKIP (UPI) Bandung

Pendidikan Khusus:
Finacial Planning (AFPI): Jakarta 2004
Investment Linked (SCI): Singapore 2003
Keagenan Asuransi Jiwa (LPAI): Jakarta 2002

Riwayat Organisasi:
Country Chair (MDRT): Indonesia 2012-2013
MCC Member (MDRT): Indonesia 2008-2012

Riwayat Pekerjaan:
Finacial Advisor PT Panin Life, Tbk.
Consumer Banking Head BUN: Bandung 1990-1998
Operational Staff Bank NISP: Bandung 1989-1990


[Email REDAKSI, IKLAN, & KERJA SAMA: pemiluupdate@gmail.com]

Thanks for sharing

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here