Merayu Pemilih via Jasa Artis

Pedangdut Via Vallen pada kampanye Pilgub Jatim (Istimewa/rilis.id)

PemiluUpdate.com – Tahun ini, 2018, sungguh arena pertarungan politik. Disebutnya sebagai “tahun politik”. Betapa tidak, usai pilkada serentak ada Pemilihan Umum Anggota Legislatif (Pileg) dan Pemilu Umum Presiden-Wakil Presiden (Pilpres) 2019.

Peta pertarungan pada Pemilu 2019 ditentukan hasil Pilkada 2018, yang diselenggarakan di 171 kabupaten/kota dan provinsi.

Bagaimana strategi kontestan pilkada berikut partainya agar memenangi pertarungan? Selanjutnya, bagaimana calon presiden-wakil presiden dan partainya bersiap supaya unggul? Ada pula calon legislator yang kudu meraih simpati pemilih agar meraih predikat “yang terhormat wakil rakyat”.


Awal Medsos

Cara yang populer kini yakni pemanfaatan media sosial (medsos). Sukses pengaruh medsos pada pesta demokrasi dibuktikan pada Pilpres 2014. Pelakonnya pasangan calon (paslon) Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK) dan Prabowo Subianto-Hatta Radjasa.

Terjadi perang twibbon foto. Tim medsos Jokowi-JK mengedit foto mereka dengan twibbon “I Stand on the Right Side”. Pasukan Prabowo-Hatta menggunakan twibbon bertuliskan “Pilih Satu karena Saya Cinta Indonesia”.

Tren itu menjalar ke Pilgub DKI Jakarta 2017. Tim pemenangan sungguh memberi perhatian besar pada perangkat medsosnya. Ada pesohor di tengah konten yang dibagi luas via medsos.


Memilih Artis

Pemanfaatan figur publik berlanjut hingga hari ini. Pada Pilkada 2018, para kontestan menggunakan jasa mereka, sebagian besar di antaranya artis.

[Baca juga: SURVEI: Pilihan Anda pada Pilwalkot Bekasi 2018?]

Di Jawa Timur, paslon Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno yang diusung PKB, PDIP, Gerindra, dan PKS menggaet penyanyi dangdut Via Vallen dan Nela Kharisma. Kedua penyanyi memang tengah di puncak popularitasnya.

Kompetitornya, Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak memilih Sigit Purnomo atau Pasha Ungu dan Anang Hermansyah sebagai juru kampanye (jurkam). Mereka memimpin barisan artis lainnya seperti Hendro Eko Purnomo atau Eko Patrio, Dessy Ratnasari, Lucky Hakim, dan Primus Yustisio. Deretan artis ini pada saat bersamaan telah menjadi politikus Partai Amanat Nasional (PAN).

Strategi yang sama dilakukan di Jawa Barat, dan provinsi lain. Tak ketinggalan tentunya pada pemilihan umum bupati-wakil bupati (pilbup) dan pemilihan umum wali kota-wakil wali kota (pilwalkot).

Sang artis diharap memberi tone positif kepada calon kepala daerah. Bila si artis memiliki banyak fans, dikalkulasi menaikkan suara elektoral kontestan atau partai.

[Baca juga: Bawaslu Jawa Barat: Sekda Kota Bekasi Terindikasi Kuat Tidak Netral]

Keuntungan langsung yang diperoleh yakni berkumpulnya massa kampanye. Pada masyarakat menengah ke bawah, artis merupakan magnet. Massa besar di lapangan kampanye menjadi kesempatan bagi paslon guma memasarkan diri atau partai mereka.

Apakah endorse artis mampu menggiring massa agar memilih paslon yang memakai jasanya? Beberapa survei menyimpulkan pengaruh tokoh agama lebih kuat ketimbang kalangan penghibur. []LMC/RE


[E-mail REDAKSI, IKLAN, & KERJA SAMA: pemiluupdate@gmail.com]

Thanks for sharing

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here