Lima Kandidat Wali Kota Sukabumi Adu Program di Hadapan Pemuda

Para calon wali kota Sukabumi pada Pilkada 2018 dan pengurus KNPI Kota Sukabumi pada acara debat calon di Kota Sukabumi, Jawa Barat, Selasa, 28 November 2017 (Herry Febrianto/PemiluUpdate.com)

KOTA SUKABUMI, PemiluUpdate.com – Debat calon wali kota dan wakil wali kota pada Pilkada 2018 yang digelar DPD KNPI Kota Sukabumi berlangsung seru. Para calon adu program seputar persoalan pemuda.

Debat yang dikemas memakai istilah ‘ta’aruf‘ ini digelar di satu lokasi objek wisata, di Kota Sukabumi, Jawa Barat (Jabar), Selasa, 28 November 2017.

Adu ide dan gagasan soal strategi kepemudaan melibatkan lima kandidat kepala daerah. Sebelumnya, panitia mengundang 13 orang.

Mereka yang tampil: Wakil Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi (calon wali kota usungan PKS), Sekretaris Daerah Kota Sukabumi Hanafie Zain (calon wali kota usungan PDIP), Ketua DPC PPP Kota Sukabumi Ima Slamet, Direktur PDAM Kota Sukabumi Anton S. Rachman, serta Ketua DPD Partai Golkar Kota Sukabumi Jona Arizona yang diwakili sekretarisnya, Gundar Kolyubi.

Masing-masing kandidat diberikan waktu 10 menit memaparkan visi-misinya di hadapan peserta yang hadir dalam kegiatan bertajuk Rapat Kerja Pimpinan Daerah (Rapimda) KNPI tersebut. 


Pendidikan

Hanafie Zain yang mendapat kesempatan awal mengatakan jika dirinya bersama Mohamad Muraz, sekitar 15 tahun, telah berbuat untuk kalangan pemuda. Mereka, ungkapnya, menancapkan program pendidikan dengan mendirikan universitas melalui Yayasan Kusumah Bangsa. Lahirlah Politeknik Sukabumi dan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes).

Tujuannya tidak lain, kata Hanafie, untuk menciptakan pendidikan berkarakter yang bisa memenuhi kebutuhan lapangan kerja di dunia industri. 

“Politeknik mencetak profesional dengan waktu pendidikan yang lebih singkat agar cepat diserap dunia industri. Sementara Stikes merupakan pendidikan kebidanan dan keperawatan,” katanya.

Ke depannya, jelas Hanafie, jika terpilih menjadi wali kota Sukabumi, dirinya akan melakukan pemetaan kondisi kepemudaan yang memiliki potensi akademik bagus ke pendidikan tinggi. Kehadiran Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) di Kota Mochi sejak dua tahun lalu, menjadi buktinya.

“Pemuda yang tidak punya kesempatan melanjutkan ke pendidikan tinggi, kita arahkan ke sektor pertanian guna regenerasi petani dengan membuat sawah-sawah dan budidaya ikan. Mereka diarahkan menjadi profesional di sektor pertanian karena ada potensi pasar yang besar di dalam dan luar negeri,” papar Hanafie.


Perubahan

Berbeda dengan Hanafie, Direktur PDAM Kota Sukabumi Anton S. Rachman yang digadang-gadang juga mencalonkan pada Pilkada 2018 akan menciptakan Kota Sukabumi Baru. Maksudnya adalah masyarakatnya harus diberdayakan di sektor pendidikan, kesehatan serta ekonomi.

“Saya merasa belum menjadi balon (bakal calon) wali kota atau wakil wali kota. Berbicara masalah pemuda dan Kota Sukabumi, keduanya memasuki proses perubahan di pemerintahan. Saya sebagai warga harus ikut dalam proses itu,” tandas mantan ketua DPD KNPI Kota Sukabumi tersebut.

Menurutnya, ke depan kebijakan soal pembangunan pemuda harus ditunjang anggaran cukup. Intinya, kata Anton, generasi muda Kota Sukabumi harus merebut pemerintahan, kekuasaan, dan mengejawantahkan sendiri pada pilkada nanti. 

[Baca juga: Mitos Wali Kota Sukabumi dari Sekda, Terkam Dukung Hanafie di Pilkada]

“Jangan ada lagi ke depan masyarakat yang masih kelaparan dan meninggal karena tidak makan. Begitu juga jangan ada lagi anak-anak yang tidak bisa sekolah karena tidak memiliki biaya,” katanya.


Caci-Maki

Sedangkan Wakil Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi selaku petahana tidak menyangkal jika masih ada permasalahan dan problematika soal pemuda yang harus diselesaikan. Tantangan ini seiring perjalanan waktu semakin kompleks.

“Permasalahan tahun lalu tidak akan sama dengan tahun ini. Intinya dalam pembangunan bukan saya, tapi kami karena tidak ada klaim personal, harus bersama-sama,” katanya.

Fahmi membagi tiga peran pemuda ke depan, yakni sebagai agen perubahan, pembangunan, dan agen modernisasi. Pemuda harus menjadi kontrol sosial kepemimpinan yang ke depan. Mereka perlu membuka ruang diskusi dengan memberikan kontribusi positif, bukan mengkritisi dengan cara mencaci-maki.

“Generasi muda ke depan bukan lagi pencari kerja, tetapi sebagai pencipta kerja. Tentunya di era milenial sekarang tidak akan lepas dari teknologi dan informasi. Pokoknya hanya dua kata: ‘love‘ dan ‘berjuang’,” jelasnya.

Ketua DPC PPP Kota Sukabumi Ima Slamet. Juga calon wakil wali kota Sukabumi pada Pilkada 2018 (Istimewa/Dok. PemiluUpdate.com)


Saatnya Kartini

Berbeda dengan ketiga kandidat sebelumnya, visi dan misi yang dipaparkan Ketua DPC PPP Kota Sukabumi Ima Slamet agak menarik. Dia menegaskan saatnya para pemudi tampil di tengah dominasi kaum laki-laki. Momen pilkada nanti, menurutnya, perlu dimanfaatkan oleh para Kartini untuk turut berkontribusi membangun Kota Sukabumi.

“Hidup di zaman milenial, jangan pernah melupakan asal-muasal dan warisan dahulu,” katanya.

Pemimpin Kota Sukabumi ke depan, jelas Ima, harus bisa membangun dan membentuk generasi muda yang Islami. Caranya, banyak ustad dan kiai yang bisa dilibatkan. 

“Selaku orangtua tentu harus memberikan yang terbaik bagi keluarga. Kalau ada jalan lebih baik, kenapa tidak saya ingin menyempurnakan dengan mencalonkan di pilkada,” tutur Ima.
 


Mobil untuk KNPI

Pada kesempatan terakhir, meski tidak hadir langsung, namun Ketua DPD Partai Golkar Kota Sukabumi Jona Arizona melalui Gundar Kolyubi secara singkat menjamin adanya ruang bagi para pemuda untuk berkarya. Tidak tanggung-tanggung, sebutnya, Bantuan Operasional (BOP) bagi masing-masing Organisasi Kepemudaan (OKP) akan dinaikkan 500 persen atau sekitar Rp5 juta, yang saat ini hanya Rp1 juta.

“Kita juga akan berikan mobil dinas untuk operasionak KNPI. Kasihan hari ini tidak punya mobil dinas,” ungkapnya. 


Rekomendasi Musda

Sementara itu Ketua DPD KNPI Kota Sukabumi Luthfiana Adam menegaskan seluruh gagasan soal pembangunan pemuda yang disampaikan para kandidat akan direkomendasikan untuk dibahas di Musyawarah Daerah (Musda) DPD KNPI Kota Sukabumi pada Desember 2017.

[Baca juga: Pemimpin Kota Sukabumi Harus Peduli dan Paham Kondisi Masyarakat]

“Semua hasil pemikiran kandidat akan menjadi bahan masukan untuk kita bahas di musda nanti,” katanya.

Soal hanya empat kandidat saja yang datang, Luthfiana mengaku sudah jauh-jauh hari mengirimkan undangan kepada 13 kandidat. Mereka dinilai KNPI sebagai sosok berpengaruh.

“Para calon yang tidak bisa datang sudah memberitahukan ke saya langsung. Alasannya karena ada kesibukan lain yang tidak bisa ditinggalkan,” ungkap Luthfiana. ()Herry Febrianto


[Surel: pemiluupdate@gmail.com]

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here