Kalkulasi Pasangan Kandidat Saat Jawa Barat Minus Figur (2-Habis)

Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat di Kota Bandung. Monumen ini terletak berhadapan dengan Gedung Sate (Ridwan Ewako/PemiluUpdate.com)

SABAN pilkada, apalagi menjelang pemilu presiden (pilpres) maka petinggi partai-partai politik pasti memelototi Jawa Barat (Jabar). Tak satu parpol yang ingin gagal di Bumi Parahyangan. Semua ingin meraih hasil maksimal di sini.

Tak mengherankan bila dinamika Pemilu Gubernur (Pilgub) Jawa Barat 2018 terbilang kencang dan alot. Proses koalisi dan penentuan pasangan calon kepala daerah bergulir lambat. Parpol menghindari kekeliruan yang berujung kekalahan.

Guna memotret jalannya tahapan yang dilakukan parpol menghadapi pertarungan pesta demokrasi itu, jurnalis PemiluUpdate.com Ridwan Ewako dan Herry Febrianto mewawancarai Dosen Ilmu Politik Universitas Padjadjaran, Bandung, Firman Manan.

Dosen Ilmu Politik, Universitas Padjadjaran-Bandung Firman Manan (Ridwan Ewako/PemiluUpdate.com)

Ditemui di kediamannya di Jalan Pasir Salam, Kota Bandung, alumnus S2 Ilmu Politik, Universitas Ohio, AS, ini memaparkan analisisnya seputar kontestasi Pilkada Jawa Barat 2018. “Pendapat saya masih sebatas pengamat saja, ya. Penelitian khusus Pilkada Jabar masih saya rancang,” tukas Firman, mengingatkan.

Berikut petikan wawancara dimaksud, yang dikelompokkan beberapa bagian:

Detail tipologi pemilih Jawa Barat?
Pertama, secara umum pilkada selalu bicara soal pertarungan figur. Saya lihat juga di Jawa Barat, kadang partai pendukung nomor dua. Di Jawa Barat, orientasi pemilih lebih melihat figur.

Figur yang seperti apa? Pengalaman Pilkada 2008 dan 2013, dua tipologi pemilih Jawa Barat. Pertama, pemilih mayoritas religius. Mengapa sosok Aher (Ahmad Heryawan) muncul? Karena ia figur yang mempunyai latar belakang religiusitas.

Kedua, Jawa Barat yang memiliki 27 kabupaten/kota, tipologi pemilihnya tradisional. Mereka memilih figur-figur yang memang populer, tidak terlalu berbicara gagasan, ide, visi-misi, dan program.

Itulah yang muncul saat Aher menggandeng Dede Yusuf pada 2008 dan 2013 menggandeng Deddy Mizwar. Popularitas tinggi alias dikenal publik menjadi penentu. Jawa Barat, saya lihat, tipikal masyarakatnya melihat figur religius mempunyai nilai tambah, dan yang populer.

Pemilih di Jawa Barat sungguh se-tradisional itu?
Saya tidak punya data tetapi artinya secara umum. Di provinsi ini ada 18 kabupaten dan sembilan kota. Di kabupaten, tipologi pemilih tradisionalnya di pedesan tetapi di kotanya sekalipun juga tipologinya pedesaan.

Contohnya Kota Tasikmalaya yang tidak merepresentasikan pemilih seperti di Depok atau Kota Bandung. Ada juga Kabupaten Bekasi yang terkenal kritis karena bagian megapolitan.

Secara keseluruhan saya tidak punya data yang pasti tetapi melihat pola pada dua pilkada lalu, wilayahnya secara geografis memang lebih banyak dihuni pemilih tradisional dalam konteks religius.

Wilayah perkotaan, misalnya, apa yang terjadi di pemilihan wali kota Bandung dan Kota Bogor. Sepanjang saya amati, dua kota ini memperlihatkan bahwa memang ada pemilih rasional dan kritis. Tetapi kecenderungan Jawa Barat pemilihnya mayoritas tradisional dan tidak terlalu mendalami visi-misi, program, dan lain-lain. Yang penting populer, dikenal.

Sikon dua pilkada/pemilu sebelumnya tersebut dapat dijadikan acuan menghadapi Pilkada 2018?
Bisa kita jadikan referensi untuk di 2018. Pertama, PDIP dan Golkar berhadapan dilihat sebagai representasi partai nasionalis. Tetapi ada dua tipologi pemilih religius dan rasional, saya lihat ada partai yang bisa masuk yaitu PKS yang berhasil memadukannya di Pilkada 2008 dan 2013.

Saya lihat tiga kekuatan itu yang akan muncul, dua partai nasionalis yang punya basis massanya dalam konteks legislatif, dan kemudian PKS.

Dai kondang Abdullah Gymnastiar yang akrabnya disapa Aa Gym (Istimewa/bintang.com)

Kejutan Aa Gym Pecah Kebuntuan

Jawa Barat sejauh ini terkesan minus figur. Parpol kesulitan mencari sosok pemimpin.
Saya terbayang di luar tiga nama itu ada Abdullah Gymnastiar (Aa Gym). Namun, kalaupun dia muncul, adanya di poros mana? Saya tidak membayangkan Aa Gym di poros PDIP dan Golkar. Bisanya di poros Gerindra dan PKS. Dia bisa menjadi alternatif kalau mengacu pada 2008 dan 2013, paling tidak di posisi Jabar 2. 

Kita lihat untuk calon wakil gubernur sampai hari ini belum ada satupun kandidat punya elektabilitas dan popularitas yang membantu mendongkrak calon gubernurnya. Belum ada calon pendamping buat Kang Emil, Dedi Mulyadi, dan Demiz yang posisinya memperkuat. Aa Gym ikut mendongkrak calon gubernurnya jika ia wakil.

Bagaimana dengan Dede Yusuf?
Dede Yusuf agak berat peluangnya untuk posisi calon gubernur, sebagai wakil mungkin. Dia sudah punya pengalaman kalah pada Pilkada 2013. Bagaimanapun ini jadi catatan. Tipikal pemilih melihat kalau sudah kalah kurang bagus. Apalagi berhadapan dengan tiga nama yang jika dihadapkan dengan Dede Yusuf, tak terlihat diferensiasinya.

Warga Jawa Barat cenderung alergi dengan orang pusat, melainkan lebih tertarik sosok lokal. Walaupun pernah menjabat wakil gubernur, Dede Yusuf lalu berkiprah di Jakarta. Jadi berat baginya sebagai calon gubernur. Sementara kalau menjadi wakil gubernur, dia belum tentu bersedia.

Sosok lain?
Saya belum melihat figur lain sampai hari ini. Kemarin sempat Bu Susi. Beliau populer dan prestasinya luar biasa tetapi kita belum mendengar ambisinya maju. Berbeda dengan Khofifah (menteri sosial). Kerugian bagi Jokowi jika melepas Bu Susi. Ia ikon kabinet. Kalau Khofifah tidak terlalu problem.

Bagaimana kans Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Barat Mulyadi?
Kalau Demiz tetap bermasalah dengan Gerindra, ada calon internal yang mampu yakni Mulyadi dan Burhanuddin Abdullah. Masalahnya keduanya adalah popularitas dan elektabilitas masih rendah. Karenanya, Mulyadi atau Burhanuddin Abdullah harus dipasangkan dengan figur yang populer, misalnya dengan Aa Gym.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada Mulyadi atau Burhanuddin Abdullah, bagaimanapun pilkada itu pertarungan popularitas. Ingat Aher pada 2008 menggandeng Dede Yusuf, dan jadi. Berikutnya dengan Demiz.

Bagaimana dengan formulasi Demiz-Muyadi?
Demiz-Mulyadi sama ketika saya menghitung Dedi Mulyadi dengan Demiz sebagai salah satu opsi. Mengapa Demiz tidak diusung oleh PKS? Ini artinya PKS tidak mengusung sama sekali. Dia tidak lagi menjadi alternatif sebagai kandidat yang merepresentasikan PKS. Kalau Demiz sebetulnya tidak semata-mata lagi dilihat sebagai artis karena sudah punya pengalaman sebagai wakil gubernur. Kalau melihat hasil survei, tidak masalah Demiz diusung.

Kalau masalah Demiz dengan Gerindra cuma soal komunikasi, ya, sudah, Demiz dekati saja Gerindra. Mungkin karena style-nya seperti Kang Emil. Bedanya Kang Emil nonpartisan tetapi lincah sedangkan Demiz membangun citra nonpartisan namun tidak lincah dengan partai.

Peluang Emil dengan Mulyadi?
Emil dengan Mulyadi, ya, saya lihat Gerindra sudah tutup buku dengan Wali Kota Bandung itu. Sejauh ini kita tidak melihat Emil kembali membangun komunikasi dengan Gerindra tetapi justru Golkar yang diharapkan oleh Emil.

Agus Harimurti Yudhoyono, putra Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (Istimewa/todayonline.com)

AHY Turun Gunung di Jawa Barat?

Ada peluang Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) turun ke Pilgub Jawa Barat?
Saya tidak melihat ada rencana AHY turun di Jawa Barat. Mengapa Emil, Demiz, dan Dedi Mulyadi yang sejauh ini mencuat? Karena mereka sudah dekat dengan orang Jawa Barat.

Terlalu lambat AHY dimunculkan sekarang karena yang ketiga sudah leading. Akan menjadi blunder bagi demokrat kalau sampai kalah dua kali setelah di Pilgub DKI Jakarta.

Saya nggak melihat AHY menjadi unsur kejutan di Pilgub Jawa Barat. Malah bisa berbahaya buat demokrat. AHY potensial bagi pemilih muda. Namun saya juga tidak mengerti bagaimana Demokrat mempersipkan AHY jika dipersiapkan maju pada Pilpres 2019. Harusnya kalau mau masuk struktural partai dulu, menjadi politikus. ()


[Surel: pemiluupdate@gmail.com]
 

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here