UU Pemilu Buka Peluang Parpol Kongkalikong Giring Calon Presiden Hanya Satu

Mantan Komisioner KPU Hadar Nafis Gumay (Istimewa/hallopilkada.com)

JAKARTA, PemiluUpdate.com – Mantan Komisioner KPU Hadar Nafis Gumay mempersoalkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu. Hal yang paling mengkhawatirkan, menurutnya, terutama Pasal 222 yang mengatur ambang batas presiden (presidential threshold) 20 persen kursi DPR atau 25 persen suara nasional.

Kekhawatiran tersebut mendorong dirinya membawa Undang-Undang Pemilu ke Mahkamah Konstitusi (MK). Hadar berpendapat ambang batas presiden hanya menguntungkan parpol tertentu. Melalui kongkalikong, nantinya hanya kekuatan politik tertentu yang bisa mengajukan calon presiden pada Pemilu 2019.  

“Mereka bisa bergerombol untuk hitung-hitungan praktis politik mereka. Sudah, deh, kita bikin calon sedikit saja, atau bisa malah tunggal, misalnya,” kata Hadar di Gedung MK, Jakarta, Selasa, 3 Oktober 2017.

Kondisi itu, menurut Hadar, bertentangan dengan konstitusi dasar yang memberi ruang bagi semua partai untuk mengusung calon presiden, baik sendiri maupun gabungan parpol. Selain itu, konstitusi sebenarnya sudah mengatur hal itu semua hingga ke tataran teknis.

“Konstitusi kita itu sudah membuat sistem pemilihan presiden secara lengkap dan jelas yaitu sistemnya dua putaran. Kalau kita punya calon banyak maka ada putaran kedua,” tegasnya.

[Baca juga: KPU Harap Keputusan MK Terkait UU Pemilu Tak Bebani Penyelenggara]

Pada putaran kedua tersebut kandidat calon presiden jumlahnya akan semakin mengerucut. Selain itu pada putaran kedua akan terhindar dengan kemungkinan calon tunggal pemilihan presiden.

“Sistem pemilihan yang dua putaran itu harus kita patuhi. Tidak perlu kemudian dibatas-batasi. Itu jelas di konstitusi, loh,” tutur Hadar lagi.

Ditambahkan, demi keadilan bagi semua parpol untuk bisa mengusung calon presiden, Hadar berharap MK mengabulkan permohonannya. Majelis hakim MK diharap menolak Pasal 222 dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu. ()Madi Cakra


[Surel: pemiluupdate@gmail.com]

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here