Golkar tak Usung Emil, Nasdem: Tidak Apa-apa, PPP di Depan Mata

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil (Emil) selaku calon gubernur Jawa Barat pada Pilkada 2018, bersama Ketua DPW Partai Nasdem Jawa Barat Saan Mustopa (Istimewa/rilis.id)

KOTA BANDUNG, PemiluUpdate.com – Ketua DPW Partai Nasdem Jawa Barat Saan Mustopa mengatakan pihaknya sama sekali tidak gusar atas beredarnya surat rekomendasi Partai Golkar kepada Wali Kota Bandung Ridwan Kamil (Emil), yang belakangan disebut palsu alias hoax.

Ditegaskan, Nasdem santai saja bila Golkar tidak bergabung mengusung Emil sebagai calon gubernur Jawa Barat pada Pilkada serentak 2018. Nasdem sebagai parpol yang pertama meresmikan arsitek itu sebagai jagoannya pada Pemilu Gubernur-Wakil Gubernur (Pilgub) Jawa Barat, aku Saan, bakal memperoleh dukungan PPP.

Koalisi Emil sejauh ini terdiri atas Nasdem dan PKB. PPP boleh jadi merapat ke poros dengan syarat Bupati Tasikmalaya Uu Ruzhanul Ulum menjadi pendamping Emil, yakni sebagai calon wakil gubernur.

“PPP insya Allah bareng dengan Nasdem. Mungkin partai-partai lain juga akan ikut. Dengan dua partai itu saja, kami bisa mendapatkan perahu untuk mengantarkan pasangan calon ke KPU,” ujar Saan di Kabupaten Cianjur, Sabtu, 13 September 2017.

Ketua DPW Partai Nasdem menyebut dukungan PPP sudah “di depan mata”. Dia belum memastikan apakah bergabungnya PPP dimaksud berarti Nasdem dan PKB setuju menampatkan Uu sebagai calon wakil gubernur. Hal ini tidak mudah karena PKB yang lebih awal merapat ke kubu Nasdem pun menuntut kursi pendamping Emil.

[Baca juga: PKB Tuntut Jatah Calon Wakil Gubernur Jabar Pendamping Emil]

Nasdem memiliki lima kursi di DPRD Jawa Barat, PPP sembilan kursi, dan PKB tujuh kursi. Dengan kekuatan 21 kursi, ketiga parpol ini sudah dapat mendusung paket pasangan kandidat pada Pilgub Jawa Barat 2018. Syarat minimal yakni 20 kursi.

Kepastian PPP bergabung dengan poros Nasdem memang belum dapat dipastikan hingga sekarang. PPP di bawah kepemimpinan Ketua DPW PPP Jawa Barat Ade Munawaroh Yasin sendiri intens membentuk poros ketiga Pilgub Jawa Barat, bersama Partai Demokrat, PAN, dan belakangan Partai Gerindra.

Sementara itu, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengatakan sanggahan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi selaku Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat –yang juga disebut-sebut calon penerima rekomendasi sebagai calon gubernur– sebagai sesuatu yang biasa terjadi dalam arena pemilu.

“Drama-drama pasti ada,” tukas Emil secara terpisah, dan menambahkan, “Sebelum janur kuning melengkung atau surat resminya keluar, saya tidak akan bisa mengomentari.”


Golkar Abaikan Dedi Mulyadi?

Bila DPP Partai Golkar batal mengusung Dedi Mulyadi sebagai calon gubernur Jawa Barat, dan memilih merapat ke kubu Nasdem, maka komunikasi akan segera digelar. Ketua DPW Partai Nasdem Jawa Barat Saan Mustopa mengatakan pihaknya bersama PKB akan langsung membahasnya dengan Golkar.

“Setelah itu baru kita follow up dengan cara berkomunikasi. Sebelum ada sikap resmi dari Partai Golkar, kami tidak akan membangun komunikasi dulu di level Jawa Barat,” tutur Saan lagi.

[Baca juga: Dedi Mulyadi Jeblok, Golkar Sodorkan Putra Pantura jadi Wakil Emil]

Seperti hanya Emil, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi sejak awal memproklamirkan sikapnya hanya masuk arena Pilkada Jawa Barat sebagai calon gubernur. Bukan wakil gubernur.

Akankan DPP Partai Golkar benar-benar “mengabaikan” posisi Dedi Mulyadi sebagai ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat? Lalu menempatkan Daniel Mutaqien Syafiuddin, putra mantan Bupati Indramayu Irianto MS Syafiuddin –juga bekas ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat. Formasi ini bukan tanpa ekses karena dipastikan mesin partai tidak akan begerak menghadapi pilkada. ()BIH


[Surel Marketing/Redaksi: pemiluupdate@gmail.com]

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here