Elektabilitas Terus Jatuh, Golkar Bentuk Tim Pengkaji di Bawah Yorrys

Fungsionaris DPP Partai Golkar Yorrys Raweyai, yang ditugasi memimpin Tim Kajian Elektabilitas (Istimewa/detik.com)

JAKARTA, PemiluUpdate.com – Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Golkar membentuk Tim khusus Kajian Elektabilitas. Tim ini ditugasi merespons elektabilitas Golkar yang terus jeblok menjelang Pilkada serentak 2018 dan Pemilu 2019.

Ketua Harian DPP Partai Gokar Nurdin Halid menunjuk Yorrys Raweyai dan Letjen TNI (Purn.) Lodewidjk Freidrich Paulus memimpin tim ini. Yorrys kini menjabat koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan DPP Partai Golkar. Sedangkan Paulus tercatat sebagai koordinator Bidang Kajian Strategis.

“Seminggu sampai sepuluh hari ke depan,” ujar Yorrys di Jakarta, Jumat, 15 September 2017. Dia menjelaskan waktu kerjanya.

[Baca juga: Dedi Mulyadi Jeblok, Golkar Sodorkan Putra Pantura jadi Wakil Emil]

Dia menjelaskan timnya diperintahkan bekerja cepat. Tim ditugasi mencari tahu mengapa tingkat keterpilihan parpol paling senior ini turun hari demi hari. Selanjutnya, tim merumuskan cara mengatasi masalah sesegera mungkin agar Golkar tetap eksis pada pilkada dan pemilu mendatang.

“Karena isu itu yang menguat. Elektabilitas Golkar itu sekarang ini menurun. Mengapa kami mesti pikir yang macam-macam. Ini harus dikaji, apa sebabnya,” tukas Yorrys.


PDIP Pertama, Gerindra Kedua

Catatan PemiluUpdate.com, Lembaga Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada 8 Juni 2017 merilis hasil surveinya.

PDIP diprediksi memenangi Pemilu 2019 dengan elektabilitas 21,7 persen. Partai Gerindra menempati posisi kedua dengan 9,3 persen. Golkar menyusul di belakang dengan sembilan persen. Angka ini berdasar pemilihan parpol secara top of mind.

SMRC juga mencatat elektabilitas Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) tetap stabil. Gerindra mulai meningkat.

“Kalau Pilkada DKI berpengaruh, seharusnya PDIP turun, Gerindra naik. Tapi ini sama-sama naik. Dengan kata lain, Pilkada DKI tidak mengubah dukungan terhadap partai. PDIP bisa saja kalau tidak ada perubahan yang signifikan, peta dukungan terhadap PDIP stabil, kecuali Gerindra,” kata Peneliti Senior SMRC Djayadi Hanan.

[Baca juga: Golkar Abaikan Petisi Ulama Purwakarta Minta Dedi Mulyadi tak Diusung]

Djayadi menegaskan dukungan terhadap PDIP stabil karena faktor figur Jokowi. Masyarakat yang memilih PDIP lebih karena figur Jokowi. Hal itu sama yang terjadi pada 2009 saat Partai Demokrat memenangi pemilu karena faktor nama Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

“Yang potensial mendekati posisi PDIP adalah Gerindra karena dia punya tokoh tetapi tantangannya tingkat elektabilitas Pak Prabowo jauh di bawah Jokowi,” ungkap Djayadi lagi. ()LMC


[Surel: pemiluupdate@gmail.com]

Thanks for sharing

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here