Ahmad Syaikhu: Demiz Tidak Tahu Prosedur Urus KTA Gerindra

Wakil Wali Kota Bekasi/Ketua DPW PKS Jawa Barat Ahmad Syaikhu, yang juga calon wakil gubernur Jawa Barat dari PKS (Istimewa/ahmadsyaikhu.com)

KOALISI yang dibangun Partai Gerindra dan PKS, paling tidak pada Pemilu Presiden (Pilpres) 2014 dan beberapa pilkada, serta terakhir pada Pemilu Gubernur-Wakil Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2017 boleh jadi bakal menjadi kerja sama parpol terbaik.

Pamungkas di Pilkada DKI Jakarta, yang berujung kemenangan heroik, semangat membangun persekutuan total Gerindra dan PKS mencuat. Bukan cuma di tingkat kepengurusan pusat namun juga hingga level kabupaten/kota.

Pada Pilgub Jawa Barat 2018, semangat kesolidan kedua partai juga hendak dibangun. Maklum saja jika dikaitkan dengan kepentingan Pemilu 2019, medan pertarungan penting secara nasional berada di provinsi ini.

Jawa Barat pemilik suara terbesar di Indonesia. Menang di Bumi Parahyangan menjadi modal besar bagi satu parpol atau poros koalisi mendulang sukses pilpres dan pileg.

Namun, kerja sama Gerindra-PKS menghadapi Pilgub Jawa Barat 2018 ternyata belum sepenuhnya mulus. Pekan ini, Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Barat Mulyadi menegaskan pihaknya mencabut dukungan kepada calon gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar (Demiz) dan calon wakil gubernur Jawa Barat Ahmad Syaikhu.

Paket Demiz-Syaikhu disebut-sebut “resmi” karena dikukuhkan di hadapan Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al Jufri pada 17 Agustus 2017. Meskipun belum ada selembar surat keputusan dari pengurus pusat kedua partai ini yang mengukuhkan peresmian duet Demiz-Syaikhu.

Mulyadi menyebutkan beberapa dasar yang mendorong pihaknya bersikap tegas dan menyatakan mencabut dukungan.

Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana pandangan dan sikap PKS atas tindakan yang diambil DPD Partai Gerindra Jawa Barat?

Guna memperoleh jawabannya, Jurnalis PemiluUpdate.com Ridwan Ewako mewawancarai calon wakil gubernur Jawa Barat dari PKS Ahmad Syaikhu, Rabu, 13 September 2017. Penjelasan Syaikhu semakin penting sebab dia juga Ketua DPW PKS Jawa Barat.

Berikut petikan wawancara dimaksud:

Apa tanggapan Anda atas ketegangan antara Gerindra dan PKS sehubungan proses penetapan pasangan calon yang akan diusung pada Pilkada Jawa Barat 2018?
Pasangan ini sudah ditentukan oleh DPP masing-masing, PKS maupun Gerindra. Jadi bukan lagi rana DPW PKS dan DPD Gerindra Jawa Barat. Jadi, ya, kita serahkan saja sepenuhnya kepada DPP masalahnya. Saya menunggu instruksi saja.

Anda memang mendengar adanya pencabutan atau pembatalan dukungan terhadap paket Demiz-Syaikhu oleh Gerindra?
Selama ini saya belum menerima informasi pencabutan dukungan dari DPP PKS maupun Gerindra pusat. Nah, sementara ketika penetapannya, saya dan Pak Deddy Mizwar langsung menghadap Prabowo dan Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al Jufri.

Kami sudah salaman. Kemarin bahkan saya dapat informasi dari Presiden PKS bahwa di Sabtu (9/9/2017) justru Pak Prabowo kembali menegaskan dan mengokohkan dukungannya terhadap pasangan Deddy Mizwar-Ahmad Syaikhu di Pilkada Jawa Barat.

Jadi pasangan Demiz-Syaikhu keputusan DPP? Namun PKS dinilai tidak siap dengan paket calon tersebut?
Masalah komunikasi mungkin, ya. Kami menginginkan penyelesaian masalah ini masing-masing proaktif.

Mungkin teman-teman media melihat bagaimana sesungguhnya PKS melakukan mobilisasi di internal. Saya di PKS dan di H. Mulyadi diharapkan di Gerinrra. Kita sudah bergerak, kok. Kita sudah bergerak sana-sini, tidak ada masalah.

Calon gubernur Deddy Mizwar sejauh ini belum juga menjadi kader Gerindra padahal syarat untuk diusung. Mengapa?
Ya, mungkin ini memang berkaitan dengan KTA (Kartu tanda Anggota) Pak Deddy Mizwar. Saya sudah tanya ke Pak Deddy, sudah dapat KTA, belum? Masalah beliau belum tahu bagaimana prosedur mendapatkan KTA. Apakah harus datang ke DPD? Atau harus di DPC. Atau seperti apa? Mungkin ini miskomunikasi saja.

Wakil Wali Kota Bekasi Ahmad Syaikhu saat peluncuran buku karyanya (Istimewa/ahmadsyaikhu.com)

Benar cuma masalah komunikasi saja?
Ya, menurut saya, mungkin seperti itu. Saya dan Pak Deddy Mizwar confirm dengan yang sudah dinyatakan Pak Prabowo dan Ketua Majelis Syuro. Kami langsung dipanggil. Kita sudah salaman bersama di hadapan beliau-beliau itu. Kemudian kami diminta untuk menyosialisasikan dan bekerja.

Makanya kemudian, saya terus road show ke DPD-DPD dan seluruh jaringan yang kita bisa akses untuk menegaskan ini.

Konsolidasi sudah dilakukan tapi tampaknya cuma di tingkat PKS sendiri?
Karena kami ini ingin PKS solid dan mesin partai siap berjalan. Beberapa DPD yang saya datangi, seperti Kota bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bandung siap running dan bergerak.

Ada statement Anda di Kabupaten Bandung bahwa Bapak lebih senang di Kota Bekasi daripada di Jawa Barat. Apa maksudnya?
Pernyataan itu, kan, dipotong. Saya bicara urutan kalau saya boleh memilih. Saya di Bekasi sudah banyak dikenal. Tetapi ke Jawa Barat atau ke Bekasi bukan pilihan saya. Ini betul-betul amanat partai. Saya sebagai kader ketika partai mengamanati seperti itu, saya sami’na wa atho’na (mendengar dan taat). Saya akan berjalan all out.

Makanya kemudian saya merancang road show ke 27 kota/kabupaten dalam rangka menjalankan amanah partai itu.

Atas ketegangan PKS dengan Gerindra tersebut apa tindak lanjut Anda?
Kita akan tingkatkan intensitas komunikasi. PKS sendiri tidak akan terganggulah. Fokus kami di PKS adalah konsolidasi internal. Kemudian bangun soliditas struktural. Kami ingin mesin partai bergerak sesegera mungkin menuju kemenangan pilkada di Jawa Barat dan di kota/kabupaten se-Jawa Barat.

Sekali lagi, menurut Anda, akankah ada perubahan duet calon pada Pilgub Jawa Barat 2018?
Insya Allah karena saya dengar ucapan langsung Pak Prabowo, tidak akan semudah itu. Juga tidak akan terjadi perubahan koalisi. ()


[Surel: pemiluupdate@gmail.com]

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here