Suatu Pagi di Jonggol, Sisi Lain Bos Gerindra Jawa Barat

Kepala Polsek Jonggol Kompol Agus Supriyanto (kiri) bersama Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Barat Mulyadi (kanan) pada program salat subuh berjemaah di masjid, Pondok Pesantren Saung Santri, Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu, 9 September 2017 (Ridwan Ewako/PemiluUpdate.com)

PemiluUpdate.com – Musala Saung Santri sudah bangun sekitar sejam sebelum azan subuh berkumandang. Hari itu, Sabtu, 9 September 2017, dua puluh lebih santri telah memenuhi musala. Sebagian santri lainnya bersiap-siap memenuhi musala berkapasitas sekitar 100 orang.

Di musala, pantauan PemiluUpdate.com, tampak jemaah menunaikan salat sunat. Yang usai salat sunat, terlihat berzikir. Semuanya khusyuk.

Tak lama kemudian, anggota Polsek Jonggol masuk ke musala. Terdepan Kepala Polsek Jonggol Kompol Agus Supriyanto. Di belakang, anak buahnya 10 orang. Mereka sebagian di antara personel Polsek yang berjumlah 38 orang.

Bukan seluruhnya polisi. Di tengah mereka ada KH Jajang Gozali, ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Jonggol.

Apa gerangan yang terjadi di Pondok Pesantren (Ponpes) Saung Santri yang terletak di Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu? Terjadi tindak pidana kriminal?

Sama sekali bukan. Rombongan polisi tengah menggelar program polisi salat subuh berjemaah di masjid. Program yang dimulai Polsek Jonggol sejak Agustus 2017 lalu ini keliling dari masjid atau musala milik warga.

Masuk waktu salat subuh, salah seorang santri berdiri lalu mengumandangkan azan. Tajwid dan suara bagus sang muadzin menambah suasana khikmad dalam musala subuh hari itu.

Assalatu khairum minan naum; lebih baik salat daripada tidur…,” seru muadzin. Seiring seruan ini, seorang pria dari dalam rumah di samping musala bergegas bergabung dengan jemaah salat subuh.

Ia, perintis Ponpes Saung Santri yang juga Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Barat Mulyadi, mengenakan gamis dan peci putih, serta sorban berwarna sama. Sama dengan lainnya, ia langsung mendirikan salat sunat rawatib sesaat mengambil saf.

Tiba waktu salat, salah seorang pembina pondok maju ke mihrab. Dia mengimami salat. Usai salat, sang imam memimpin doa. Jemaah mengamini khusyuk, penuh harap doa dikabulkan Sang Khalik.


Produk Gagal

Usai seluruh prosesi salat subuh, saatnya kegiatan silaturahim. Mulyadi yang berada di saf paling belakang maju lalu mengambil tempat terdepan, menghadap ke jemaah. Di sampingnya Kepala Polsek Jonggol.

Menyinggung latar belakang berdirinya Saung Santri yang kini berusia 12 tahun, Mulyadi bercerita niat dasarnya.

“Saya ingin berada dalam suasana yang baik setiap saat. Berada di tengah santri sedikit-banyak membawa saya tetap on the track. Saya tidak mau menjadi produk gagal,” tutur politikus berlatar belakang pebisnis ini.

Menjelaskan maksud produk gagal yang disebutkan, Mulyadi mengatakan sesuatu yang berfungsi tidak sesuai peruntukannya.

Contoh, rincinya, sebuah ponsel yang dimanfaatkan untuk berkomunikasi jarak jauh maka alat ini bukan termasuk produk gagal. Si ponsel dipakai sesuai tujuan pembuatannya. Berbeda bila dimanfaatkan buat memukul orang lain, ia menjadi produk gagal.

“Saya jika tidak dalam jalur senantiasa beribadah maka Mulyadi adalah produk gagal. Tujuan penciptaan Mulyadi jelas hanya untuk beribadah kepada Allah SWT,” tutur sosok pemimpin Gerindra Jawa Barat, yang dijebloskan oleh Ketua DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto ke dunia politik.

[Baca juga: Mulyadi, Politikus Gerindra Jabar Berjargon ‘Aneh’]

Begitu cara mantan anggota DPR RI itu menjaga imannya. Menciptakan lingkungan yang kondusif, yang otomatis dirinya turut pula menyumbangkan peran memajukan pendidikan Islam. Santrinya terus bertambah hingga hampir mencapai 100 orang kini.

Oleh karena dasar itu pula, Saung Santri tidak memungut biaya apapun kepada anak didik. Berasal dari berbagai provinsi, seluruh santri yang ditampung berasal dari keluarga tidak mampu.

Di Saung Santri yang berada dalam komplek Bumi Sultan tersebut, anak didik dari berbagai kelompok usia juga diberi keilmuan usaha, selain ilmu agama.

“Umat harus berdaya dari sisi ekonomi. Misalnya, perlu punya toko, tetapi yang ketika waktu salat ditutup sehingga mau tidak mau karyawan dan pelanggan pun ikut ke masjid. Kira-kira begitu konsep kami mengajak umat ke masjid,” papar Mulyadi.

Giliran Kepala Polsek Jonggol menyampaikan sambutan, Kompol Agus menyatakan keberadaan Saung Santri dengan berbagai kegiatannya sejalan dengan salah satu target kepolisian. Personel Polri yang sangat sedikit dibanding jumlah warga yang harus diayomi mengharuskan kepolisian menggelar Program Perpolisian Masyarakat (Polmas).

Agus mengatakan jika suasana relijius seperti di Saung Santri ada di mana-mana, maka angka kriminalitas pasti minim. Keberadaan dai dan para santri yang mengajarkan nilai-nilai positif, katanya, pada dasarnya bagian bentuk polmas.

“Kita yang ada di sini telah menjadi polisi bagi diri sendiri dan polisi bagi warga lain. Dai dan santri di sini pasti mengajak siapapun untuk mencegah kriminalitas, kemungkaran,” ujar Kepala Polsek.

Anak didik Pondok Pesantren Saung Santri, Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mengaji usai salat subuh, Sabtu, 9 September 2017 (Ridwan Ewako/PemiluUpdate.com)


Keramahan Nasi Kuning

Usai gelaran silaturahim dimaksud, Mulyadi –yang berpeluang menjadi salah seorang calon gubernur atau wakil gubernur Jawa Barat pada Pilkada 2018– mengajak rombongan tamunya sarapan bersama. Termasuk Ketua MUI Kecamatan Jonggol.

[Baca juga: DPP Gerindra: Kang Mulyadi Pemegang Mandat Calon Gubernur Jabar]

Diskusi tentang berbagai soal kemasyarakatan di Jonggol berlangsung antara politikus, tokoh agama, dan aparat hukum sambil menikmati menu nasi kuning. Suasana akrab terlihat. Tidak ada sekat. Obrolan sesekali diselingi canda. Mulyadi sendiri adalah putra Jonggol karena lahir dan besar di sini.

Sekitar sejam setelah melepas tamu, Mulyadi menuju Jakarta. Tugas sebagai bos Gerindra Jawa Barat dan selaku pebisnis yang memimpin sederet perusahaan nasional dan multinasional menanti di Ibu Kota. ()Ridwan Ewako


[Surel: pemiluupdate@gmail.com]

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here