#Ngopi 3: Kader Parpol

Ilustrasi: Partai-partai politik di Indonesia (Istimewa/nusantara.news)

PemiluUpdate.com – Dilarang mengobrol soal yang berat-berat pada hari Ahad, apalagi masih suasana Idul Adha. Saat ini kita masih bersenang-senang atas daging kurban. Kita berbahagia bersama, tidak ada sekat antara tetangga kanan-kiri. Semua menikmati menu mewah bagi kebanyakan orang Indonesia.

Alasan kedua, PemiluUpdate.com bukanlah ruang kuliah, bahkan juga tidak kelas anak SLTA. Situs web Anda ini, khususnya rubrik #NGOPI, hanyalah charger. Laman ini sekadar ruang reminder, pengingat akan pikiran, janji, komitmen, dan target-target kita.

Akh, banyak cakap, ni. Mau ngomongin apa, sih? Maaf, hehe…. Kali ini, saya mau bicara soal kata “partai” atau “parpol” dan “kader”.

Merunut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata tersebut adalah perkumpulan (segolongan orang) yang seasas, sehaluan, dan setujuan (terutama bidang politik). Begitu arti utamannya. Arti berikutnya berhubungan dengan penggolongan pemain dalam olahraga bulu tangkis, misalnya, dan berkaitan dengan kumpulan barang yang tidak tertentu banyaknya.

Secara tata bahasa, kata partai sangat mirip party (Inggris) dan partij (Belanda). Keduanya memiliki arti sama yakni sekumpulan orang. Secara etimologi, kata partai berasal dari bahasa Latin, pars, yang artinya sebagian.

Kata “politik” berasal dari bahasa Yunani, politikos, yang berarti untuk, dari, atau sesuatu yang terkait dengan rakyat. Jika digabungkan, partai politik adalah sekumpulan orang yang melakukan sesuatu untuk rakyat.

Jadi, ternyata, partai atau partai politik berintikan adanya kesamaan tujuan perjuangan dalam berpartai. Hal ini dasar, landasannya. Jika kemudian terdapat dinamika dalam merumuskan cara berjuang, sama sekali bukan persoalan. Hal terpenting yakni tujuan akhir bersama tidak bergeser.

Persoalan kerap berlarut-larut sebab sejak awal perumusan tujuan akhir dimaksud tidak beres. Walaupun secara jelas ditulis dalam AD/ART partai. Biasanya disebabkan oleh niat masing-masing anggota, khususnya pengurus partai. Siapa yang dapat menerka niat masing-masing rekan di samping kita?

Nah, saya yakin semua partai politik atau parpol di negeri ini hendak berbuat yang terbaik untuk Indonesia, Merah-Putih. Sama sekali bukan demi hanya partai politik bersangkutan. Bukan semata-mata untuk kemenangan si parpol dalam pemilu.

Memenangi pemilu cuma sasaran antara. Hal ini berarti kalau di sana-sini masih ditemukan kemiskinan akut maka target berpartai belum terlaksana. Sama dengan bila korupsi masih menjadi perilaku elit. Berarti kerjanya belum maksimal, menyimpang malah.

Pada kesempatan ini, saya juga ingin mengingatkan keberadaan Anda sebagai kader parpol. Apa arti kata “kader”? Kata ini memiliki setidaknya dua arti. Pertama, calon pemimpin. Kedua, bintara dalam ketentaraan yang kelak menjadi perwira atau komandan.

Berarti kader parpol sesungguhnya adalah orang-orang yang disiapkan atau bersiap diri menjadi figur yang memegang peranan penting dalam pemerintahan. Orang-orang yang nantinya mengabdi buat kepentingan rakyat.

Sungguh keliru mengartikan kader sekadar anggota parpol. Jika Anda bergabung dalam satu partai berarti wajib berlakon sebagai calon pemimpin. Jadi konsep sejatinya sangat jauh bila siapapun hanya cukup memegang KTA (kartu tanda anggota) satu parpol.

Seharusnya Anda sehari-hari bersiap atau beraktivitas sebagai calon pemimpin yang mengurusi beragam masalah rakyat. Di level apapun Anda sekarang. Kalau sibuk hanya ketika menjelang pemilu atau pilkada, maka Anda bukanlah kader parpol. Anda tak ubahnya sekadar follower satu akun media sosial, dengan identitas palsu pula. Penyebar hoax pula. Hadeuh….

Lalu, apa kesimpulan #Ngopi (Ngobrol Politik) kali ini? Nggak perlulah disimpulkan, ya? Mari menikmati si hitam di depan kita masing-masing.

Selamat libur akhir pekan, para “kader parpol”. ()


Tukang #Ngopi: Ridwan Ewako


[Surel: pemiluupdate@gmail.com]

Thanks for sharing

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here