Ahmad Heryawan: Kekuasaan, Sarana Masifkan Kebaikan

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan. Gubernur dua periode ini anak petani. Ia politikus PKS dengan ratusan penghargaan (Ridwan Ewako/PemiluUpdate.com)

PemiluUpdate.com – “Ingin masuk dalam sabda Rasulullah SAW: Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling banyak memberi manfaat bagi orang lain.” Begitu dia menulis perihal dirinya pada akun pribadinya di Twitter.

Bagi Ahmad Heryawan, yang lebih kerap disapa Aher, perihal tersebut adalah cita-cita tertingginya. Harapan hakikinya. Target dan prioritas utamanya. Itu pula yang menjadi pondasi sekaligus pilar atas kegiatannya hari demi hari.

Karena itu pula, sejak menerima amanah sebagai Gubernur Jawa Barat pada 13 Juni 2008, nyaris tak pernah libur. Sabtu dan Minggu sekalipun, Aher tetap saja menjalankan tugas sebagai nakhoda provinsi berpenduduk terpadat di Indonesia.

Ingin mengeceknya? Siapapun dapat membuka agenda kegiatannya saban hari via situs agendagub.jabarprov.go.id. Saat penulis merangkai profil singkat ini, Minggu (23/8/2015), Aher selaku Ketua Dewan Pembina Forum Komunikasi Masyarakat Tatar Sunda Pangumbaraan (Formas Sunda Ngumbara) tengah menemui ratusan warga Papua asal Tatar Sunda (Jabar dan Banten). Agenda silaturahim ini digelar di Jayapura.

Aher terbang ke Papua melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten, sekitar pukul 23:20 WIB, Sabtu (22/8/2015). Padahal, pada hari libur resmi inipula, dia juga tetap melaksanakan tugas. Hari ini, antara lain, Aher menyerahkan Hadiah Sastra Rancage 2015 di Gedung Perpustakaan Ajib Rosidi di Jalan Garut, Kota Bandung.

Atas rangkaian kegiatan yang sebagian di luar kantornya di Gedung Sate, Kota Bandung, Aher boleh jadi kepala daerah yang terpanjang perjalanan dinas memakai mobil. Mudah mengecek hal ini sebab jarak yang ditempuhnya terekam di mobilnya. Maklum, provinsi Jabar terhitung cukup luas.

Menjalankan agenda kerja rutin sejak pagi buta hingga tengah malam, tidakkah menyebabkan lelah berat? Kapan istirahat? Aher menjawab pertanyaan wartawan ini enteng. “Tidur saat bertemu kesempatan,” tuturnya singkat. Dan, kesempatan itu saat dalam perjalanan. Lebih sering di mobil yang membawanya melintasi daerah demi daerah di provinsi yang dikawalnya.

Namun, soal bekerja keras bukanlah hal baru bagi sosok Aher. Toh, dia terlahir sebagai putra Desa Margaluyu, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, dari keluarga petani. Mulai menimba ilmu di SD Selaawi I, Sukaraja, Aher terbiasa berjalan jauh menyusuri pematang sawah. Hal ini dilakoninya hingga di SMP Sukaraja dan SMA Sukabumi.

Bukan cuma berjalan dengan tangan kosong. Aher bocah hingga remaja membawa dagangan gorengan yang dibuat tetangga guna dijual sembari ke sekolah. Tentu guna memenuhi kebutuhan sekolahnya, minimal. Kemandirian ini berlanjut saat menjadi mahasiswa Fakultas Syariah, Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA).

Adalah keterbatasan biaya yang membuat Aher muda “terdampar” di LIPIA, Jakarta. Ia sebenarnya hendak kuliah ilmu pertanian di perguruan tinggi umum. Karena keterbatasan biaya, Aher memilih LIPIA yang gratis. Sebagai mahasiswa pun, Aher masih berdagang. Kali ini membawa sepatu Cibaduyut, Kota Bandung, ke Jakarta.

Aher mulai bergelut dengan organisasi sejak di bangku SMP. Ia menjabat ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dan saat SMA menjabat ketua Kerohanian Siswa (Rohis). Kiprah organisasi berlanjut, Aher dipercaya menjadi Ketua Pemuda Persatuan Ummat Islam (PUI). Selanjutnya jabatan Ketua Umum PUI disematkan di pundaknya.

Selepas kuliah di LIPIA pada 1992 dengan predikat lulusan terbaik, tahfidzAl-Qur’an ini menjadi pengajar, antara lain, di Ma’had Al Hikmah, Dirosah Islamiyyah Al Hikmah, Universitas Ibnu Khaldun-Bogor, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI)-Depok, dan Pusat Studi Islam Al Amanar.Dia juga berperan sebagai mubaligh.

Saat yang sama persentuhannya dengan gerakan dakwah melalui Partai Keadilan (sekarang Partai Keadilan Sejahtera, PKS) kian terjalin. Aher terpilih menjadi salah seorang anggota DPRD DKI Jakarta pada 1999. Usai Pemilu 2004, Aher menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Provinsi DKI Jakarta periode 2004-2009. Saat itu pula ia memimpin PKS DKI Jakarta dua periode (1999-2003 dan 2003-2006).

Aher berpasangan dengan Dede Yusuf menjadi gubernur Jabar pertama yang dipilih langsung oleh rakyat. Dia menjabat pada 2008-2013. Kerjanya melayani masyarakat berlanjut sebab masyarakat Jabar kembali memberinya amanah pada pemilihan kepala daerah (pilkada) 2013. Berpasangan dengan aktor sekaligus budayawan Deddy Mizwar, Aher memimpin Jabar periode 2013-2018.

“Kekuasaan (jabatan di pemerintah) bagi saya pada dasarnya sarana untuk memasifkan kebaikan. Sewaktu kuliah, saya mengelola yayasan yang membantu pendidikan anak tidak mampu yang jumlahnya hanya seratusan. Kini, dengan menjabar gubernur, saya mampu membantu pendidikan jutaan anak kurang mampu,” papar Aher pada beberapa kesempatan.

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan bersama murid PAUD. Sektor pendidikan menjadi prioritas pertamanya selama memimpin Jawa Barat (Istimewa/Dok. PemiluUpdate.com)

Memimpin Jabar sama sekali bukanlah tanggung jawab yang ringan. Provinsi ini berpenduduk terpadat di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Jabar pada 2008 sebanyak 42,2 juta jiwa (2014, 46,02 juta jiwa), kurang-lebih 20 persen penduduk Indonesia.

Gubernur Aher pada saat yang sama atau tahun pertama menjabat menemui berbagai kondisi masyarakat yang tertinggal di beberapa sektor ketimbang provinsi lain. Contohnya, angka partisipasi sekolah, tingkat pengangguran, dan kemiskinan.

Satu demi satu persoalan mendasar Jabar diselesaikan secara sistematis. Belum seluruhnya tuntas memang hingga 2015. Namun, segudang penghargaan yang diterima Aher dari pemerintah pusat dan lembaga lainnya menjadi bukti peningkatan signifikan Jabar tahun demi tahun.

Tugas kedinasan yang sungguh padat tak menyurutkan diri untuk memperdalam ilmu. Kali ini Aher berkesempatan menimba ilmu pertanian, harapannya ketika tamat SMA. Dia lulus program S2 Studi Ekonomi Sumber Daya dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor (IPB), dengan predikat cum laude dan indeks prestasi komulatif (IPK) 3,83. Bekal ini lalu dipakai untuk kuliah ke jenjang doktoral IPB.

Di balik itu semua, terdapat seorang istri, yang perannya tak tertakar dalam menyokong suaminya menghadapi tugas berat mengemban amanah masyarakat Jabar. Dia bernama Netty Prasetiyani Heryawan, yang sehari-hari mengawal Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK)Jabar sebagai ketua. Netty juga menjabat ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan Dan Anak (P2TP2A) Jabar. Mereka menikah pada 13 Januari 1991 dan kini dikaruniai enam putra-putri. ()Ridwan Ewako


BIO DATA

Nama: Ahmad Heryawan
Jabatan: Gubernur Jawa Barat (ke-14)
Tempat lahir: Sukabumi, Jawa Barat
Tanggal lahir: 19 Juni 1966
Agama: Islam

Mulai menjabat gubernur: 13 Juni 2008

Wakil:
Dede Yusuf (2008-2013)
Deddy Mizwar (2013-sekarang)

Gubernur sebelumnya: Danny Setiawan

Istri: Netty Prasetiyani
Anak: Khobab, Salman, Khodijah, Abdulhalim, Shofia, Abdulhadi

Almamater:
Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA)
Institut Pertanian Bogor (IPB)


Catatan:

Tulisan ini diambil dari buku Jawa Barat Tanah Legenda (2015). Penulis: Ridwan Ewako. Penerbit: Biro Humas Protokol dan Umum, Setda Provinsi Jawa Barat. ISBN: 978-602-17358-2-4.


[Surel: pemiluupdate@gmail.com]

Leave a Reply to Aher ke KPK Tanpa Surat Pemeriksaan Saksi Korupsi Meikarta - Bening Media Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here