Koalisi Pilgub Jatim: Pertarungan Barisan Pendukung Jokowi versus Poros Oposisi

Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf. Tokoh yang lebih sering disapa Gus Ipul ini hampir dipastikan menjadi salah seorang kontestan pemilihan calon gubernur Jawa Timur tahun depan (Ridwan Ewako/PemiluUpdate.com)

SURABAYA, PemiluUpdate.com – Direktur Surabaya Survey Center (SSC) Mochtar W. Oetomo memprediksi akan ada tiga atau empat pasang kontestan pada Pilkada Jawa Timur (Jatim) 2018. Persaingan memperebutkan kursi gubernur-wakil gubernur ini dipastikan berlangsung sengit.

Mochtar menyimpulkan analisisnya itu dengan catatan informasi perkembangan terkini tentang posisi Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur 2018, dari petinggi Partai Nasdem benar.

Wakil Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Partai Nasdem Willy Aditya dan Ketua DPP Partai Nasdem Hasan Aminuddin mengutarakan empat partai politik (parpol) telah berdiri di belakang Khofifah.

Golkar, Nasdem, PPP, dan Hanura dikabarkan telah bersepakat mengusung Khofifah guna menantang Saifullah Yusuf. Wakil Gubernur Jawa Timur yang lebih sering disapa Gus Ipul ini dipastikan menjadi salah seorang kontestan pilkada tahun depan.

Total kekuatan empat parpol itu 22 kursi di DPRD Jawa Timur. Prasyarat parpol mengusung calon 20 kursi.

“Keempat parpol tersebut pendukung fanatik (Presiden RI) Jokowi. Sejak dini mereka mendeklarasikan Jokowi sebagai calon presiden 2019. Pernyataan Nasdem bahwa cagub yang diusungnya harus mendukung Jokowi dua periode makin menguatkan hal itu,” ulas Mochtar di Surabaya.


Gerindra Kehilangan Bola

Manuver keempat parpol pendukung Jokowi tersebut, menurut Mochtar, membuat Gerindra yang sejak awal menjadi partai yang cenderung mendukung Khofifah bak kehilangan momentum.

“Bola Khofifah yang selama beberapa bulan ini ada di tangan Gerindra, tiba-tiba saja direbut Golkar, NasDem, PPP, dan Hanura. Sisi lain Gerindra terlanjur menyatakan talak kepada Gus Ipul karena tidak sepakat dengan calon tunggal,” kata Mochtar, dosen Komunikasi Politik di Universitas Trunojoyo-Madura.

Ditambahkan, berdasar hitung-hitungan logika politik sulit bagi Gerindra berkoalisi kuartet parpol dimaksud. Satu pihak adalah “penari latar” Presiden RI Joko Widodo. Pihak lain, yakni Gerindra, merupakan “seteru” atau oposisi pemerintahan Jokowi.

“Sulit juga bagi Gerindra bergabung dengan PKB dan PDIP mengusung Gus Ipul. Ini karena selain keduanya parpol pendukung pemerintah, Gerindra terlanjur menyatakan talak dengan Gus Ipul,” Mochtar menggarisbawahi.


Utak-atik Koalisi

Pilihan logis bagi partai yang dibesut sosok militer Prabowo Subianto adalah mengulang strategi yang diterapkannya pada Pilkada DKI Jakarta 2017. Bersama PKS, Gerindra mengusung calon sendiri, tentu selain Gus Ipul dan Khofifah.

“Syukur-syukur Gerindra-PKS bisa berkoalisi sekaligus dengan Demokrat dan PAN. Tiga pasangan kandidat akan benar-benar membuat Pilgub Jatim jadi makin kompetitif,” ujat Mochtar, alumni Universitas Sains-Malaysia ini.

Pasangan calon keempat muncul jika Gerindra-PKS gagal merangkul PAN dan Demokrat.

Perkembangan mutakhir poros Gerindra-PKS dan Demokrat-PAN sedang menggodok dua nama sebagai calon jagoannya. Mereka adalah mantan Mendiknas era SBY yakni Mohammad Nuh dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD.

Nama yang disebut terakhir tersebut, selain dikenal luas sebagai pakar hukum tata negara, juga mantan ketua Tim Sukses Prabowo-Hatta pada Pilpres 2014.

Sedangkan stok calon wakil gubernurnya dari sisi PAN yakni Ketua DPW PAN Jawa Timur Masfuk atau Bupati Bojonegoro Kang Yoto.

Sedangkan, di poros PKB-PDIP jika akhirnya pecah kongsi diprediksi akan memunculkan pasangan Gus Ipul-Azwar Anas atau Gus Ipul-Budi ‘Kanang’ Sulistyono.

Lalu, siapa pasangan Khofifah? Masih sulit ditebak. Namun, nama Ketua DPP Partai Nasdem Hasan Aminuddin, anggota DPR RI Ridwan Hisjam, atau Bupati Trenggalek Emil Dardak muncul ke permukaan. ()SJT


[Surel: pemiluupdate@gmail.com]

Thanks for sharing

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here