#Ngopi 1: Tuah ‘Harga Diri’ Pilkada Jabar

Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar dan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil (Istimewa/republika.co.id & sindonews.com)

PemiluUpdate.com – Proses koalisi partai-partai politik (parpol) menghadapi Pilkada Jawa Barat (Jabar) 2018 sedikit kusut, sebut saja begitu, pasca Partai Gerindra-PKS mengumumkan jagoannya. Walaupun rekomendasi terhadap Wakil Gubernur dan Wakil Wali Kota Bekasi itu belum dipamer.

Formasi tersebut menyelamatkan muka Gerindra yang sejak awal kukuh membidik kursi calon gubernur dan harus kader partai. Urusan ini selesai setelah Jenderal Nagabobar, julukan yang ditujukan ke Deddy Mizwar, memilih menjadi kader partai berlambang burung garuda –beberapa jam sebelum pasangan di-publish.

Adalah PKS yang sejak awal menyanding Deddy Mizwar atau Demiz dengan Ketua DPW PKS Jawa Barat. Ketika itu Demiz sosok nonpartai sehingga terkesan Gerindra sekadar partai penyokong. Padahal semangat paket Gerindra dengan PKS di Pilkada DKI Jakarta 2017 hendak dibawa ke Jawa Barat. Jangan sampai pecah.

Pasca bersandingnya Demiz dengan Syaikhu sontak memicu kalkulasi kesimpulan bahwa pemilihan gubernur-wakil gubernur di Bumi Parahyangan bakal menghadirkan tiga kontestan. Poros ini boleh jadi hanya diperkuat dua partai politik (parpol) atau kemungkinan hanya disusul satu-dua parpol.

Poros kedua melibatkan kekuatan PDIP dan Partai Golkar dengan kemungkinan tambahan beberapa parpol lain. Poros ketiga adalah Partai Nasdem, juga dengan beberapa parpol lain, dengan calon gubernurnya Wali Kota Bandung Ridwan Kamil (Emil).

Poros kedua tidak menghadapi masalah jumlah kursi sebab PDIP sendiripun mencukupi persyaratan mengusung pasangan calon. Syarat kursi minimal 20 di DPRD Jawa Barat. PDIP memiliki 20 kursi. Bergandengan tangan dengan partai beringin, koalisi ini 37 kursi.

Meskipun mempunyai kursi besar, kedua partai tidak memiliki sosok calon kandidat yang cukup kuat. Elit kedua partai telah menggadang-gadang Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi yang dipasangkan dengan Puti Guntur Soekarnoputri, cucu Proklamator RI Soekarno.

Namun sosok Dedi Mulyadi harus diakui bukanlah kelas berat di arena tinju politik Jawa Barat. Popularitasnya biasa-biasa saja walaupun yang bersangkutan sudah jungkir-balik mempromosikan diri sejak lama.

Terlalu banyak celah sasaran tembak lawan politiknya setelah penetapan pasangan kandidat resmi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Belakangan Golkar masih saja menunda untuk meneken rekomendasi buat Dedi, walau beberapa elit DPP menyebut pasti.

Pada saat yang sama calon wakil gubernur Puti tak mampu mengangkat kekuatan pasangan ini.

Kutub lain juga menghadapi masalah pelik. Nasdem dengan Emil-nya bukan gampang mencari calon pendamping. Tidak cukup baginya maju hanya mengandalkan popularitasnya. Dia harus mencari sosok yang mampu menyediakan amunisi perang pemilu guna membangun koalisi dengan parpol lapisan bawah.

Demokrat, PPP, PKB, dan Hanura berhadapan dengan pilihan cair di antara ketiga poros. Sejauh ini mereka belum mendorong sosok tertentu sebagai calonnya. Cuma PAN yang menjual kader muda yakni Wali Kota Bogor Bima Arya, Desi Ratnasari (anggota DPR RI), dan Primus Yustisio (anggota DPR RI).

Masalahnya adalah partai berlambang matahari ini cuma bermodal empat kursi. PKB dan PPP memiliki kursi lebih banyak namun tanpa figur kader yang menonjol.

Mudah dibaca pesaing kuat pasangan Demiz-Syaikhu sejauh ini adalah Emil. Persoalannya ia tersandera oleh semangatnya menegakkan “harga diri” sebagai figur independen. Arsitek ini tak ingin menjadi kader parpol. PDIP yang berusaha merangkulnya agar mau dibuatkan KTA (Kartu Tanda Anggota) gigit jari, dipermalukan.

Partai berlambang kepala banteng juga berusaha menegakkan “harga diri”. Ghirah partai. Ia tak ingin mengemis ke sosok calon kepala daerah berlabel “independen”.

Karena itu, dapat dikatakan, benang kusut dua poros kekuatan politik pada Pilkada Jawa Barat 2018 dipicu oleh dorongan menegakkan “harga diri”. Ya, harga diri dalam tanda petik, tetapi. Jika tidak, hari ini sudah mengemuka pasangan calon kontestan jadi. Dan, kemungkinan cuma ada dua pasangan calon. Namun, kenyataan kini berbicara lain.

Ya, sudahlah. Jangan pusing gara-gara utak-atik pasangan calon. Ini cuma celoteh #NGOPI alias “Ngobrol Politik”. ()


Tukang #Ngopi: Ridwan Ewako


[Surel: pemiluupdate@gmail.com]

Thanks for sharing

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here