Mulyadi, Politikus Gerindra Jabar Berjargon ‘Aneh’

Ketua DPD Gerindra Jawa Barat Mulyadi dan istri, Nuraisah Jamil (Istimewa/Dok. PemiluUpdate.com)

PemiluUpdate.com – Tabloid itu di atas meja panitia Rapat Pimpinan Daerah (Rapimda) Partai Gerindra Jawa Barat (Jabar). Setumpuk media cetak ini telah dibagikan ke seluruh peserta rapimda pada hari pertama.

Rapimda, antara lain membahas calon yang akan diusung partai pada Pilkada Jabar 2018, digelar di Sentul, Kabupaten Bogor, Jabar, 1 Mei lalu.

Terdapat foto besar di halaman depannya. Gambar Ketua DPD Partai Gerindra Jabar Mulyadi berpeci hitam. Bukan gambarnya yang menarik sebab wajah satu ini tidak asing lagi.

Hal yang mencolok mata justru judul laporan utamanya: “Ya, Allah, Muliakanlah Jawa Barat”. Di atasnya tertera nama Ketua Gerindra Jabar, yang berarti dia pemilik ucapan dimaksud.

Kalimat singkat itu jelas bernada doa. Ada permohonan di dalamnya. Membaca selintas isi laporan utama tabloid bernama Suara Gerindra Jabar itu, ternyata ia bukan sekadar doa. Dia diposisikan lebih oleh Mulyadi, mantan anggota Komisi VII DPR RI.

Kepada PemiluUpdate.com di Kota Bandung, politisi yang berlatar belakang pengusaha itu mengungkapkan bahwa kalimat itu merupakan sikap kebatinannya. Pelibatan Sang Pencipta dalam segala hal sebagai kewajiban, jalan dan sekaligus solusi atas seluruh rencana serta kegiatan yang dilakukan.

Lahir di Jonggol, Kabupaten Bogor, pada 2 November 1970, membawanya untuk peduli pada provinsi ini. Kebetulan, belakangan Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto menugasinya ke Jabar, memimpin DPD Gerindra setempat. Pas.

Lengkap, doa untuk Jabar tersebut kemudian menjelma menjadi semacam tagline atau jargon perjuangannya sebagai politisi di Bumi Parahyangan.

“Apalah artinya aktivitas hari demi hari tanpa diridho Allah SWT. Kita sangatlah merugi tatkala kesempatan karir semakin terbuka tetapi tidak disandarkan pada nilai kebenaran dan keadilan,” paparnya kepada PemiluUpdate.com, Rabu, 9 Agustus 2017.

Terlepas dari pijakan berpikir dan bertindak tersebut, terlebih membandingkan dengan jargon politisi lain dan sebut saja calon kepala daerah, rumusan milik Mulyadi rada terasa “aneh”. Tidak biasa.

Para politisi, termasuk para calon gubernur yang telah pasang kuda-kuda menghadapi Pilkada Serentak 2018, umumnya mendeklarasikan jargon agresif. Isinya janji mentereng kepada rakyat.

Mulyadi justru melantunkan doa tetapi sekaligus sebuah visi untuk kemajuan Jabar. Apa itu?

Nakhoda belasan perusahaan, yang berkedudukan di Indonesia dan beroperasi di luar negeri, ini menyatakan upaya memajukan semua lini kehidupan Jabar harus senantiasa berlandas nilai reliji. Saat yang bersamaan, meski masyarakat provinsi ini dikenal relijius, modernisasi tak ayal mengundang berbagai ekses.

Ada pergaulan bebas, kriminalitas yang cenderung meningkat, juga kesenjangan sosial yang melebar hari demi hari serta fenomena lain yang perlu dicarikan solusinya.

Masalah dan tantangan ini, menurut Mulyadi, harus diatasi bersama dengan senantiasa memperkokoh kesatuan dan keimanan jajaran pemimpin dan seluruh komponen masyarakatnya.

“Jabar harus mulia di hadapan Allah. Para pemimpin dan pejabatnya harus memiliki akhlak baik, menuju kemuliaan yang kita inginkan,” tandas ayah tiga anak.

Satu soal dasar lainnya, bagi Mulyadi, pembangunan di segala bidang mestinya diawali dengan membangun jiwa atau spritual jajaran elit dan masyarakatnya. Terlebih lagi terhadap kaum muda sebagai pilar utama kemajuan.

Mulyadi memimpin DPD Gerindra Jawa Barat atas penugasan langsung Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto (Istimewa/Dok. PemiluUpdate.com)


Awal Terjun ke Politik

Walaupun lulus sebagai sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Parahyangan pada 1995, Mulyadi justru langsung menggeluti dunia bisnis. Karenanya, ia memilih jurusan Magister Management Agribisnis di Institut Pertanian Bogor (IPB) saat melanjutkan pendidikan pasca sarjana. Ia lulus pada 2004.

Adalah bisnis yang mempertemukan Mulyadi dengan Prabowo Subianto, ketua umum DPP Partai Gerindra. Grup perusahaan yang dipimpinnya bekerja sama dengan perusahaan penggagas dan tokoh sentral lahirnya partai berlambang garuda dimaksud.

“Pak Prabowo waktu itu mencari putra daerah untuk ikut jadi caleg (calon legislatif) pada Pemilu 2009. Saya diminta menjadi caleg Gerindra,” ujar Mulyadi.

Kok, nekat terjun ke arena politik yang di mata sebagian orang penuh dengan praktik “kotor”? Soal ini, Mulyadi menjelaskan dirinya hanya berbekal kekuatan moral dalam menjalani “skenario langit”. Idealisme untuk semata-mata berjuang buat masyarakat dipupuknya.

Menurutnya, berpolitik justru membuka kesempatan guna memberikan kontribusi bagi pengambilan kebijakan untuk masyarakat luas. Dapat melakukan pengawasan pembangunan berikut anggarannya agar tepat sasaran.

“Yang membuat kesan politik itu ‘kotor’ karena ada yang mengawali niatnya bukan berorientasi pengabdian,” tukas Mulyadi lagi.

Lalu, bagaimana wujud perjuangan yang dimaksudnya? Salah satunya saat duduk di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, ia menggagas “revolusi energi” ketika negeri ini dihadapkan keprihatinan atas kondisi energi nasional.

Bangsa ini kaya sumber daya alam dan energi, namun masih saja terjadi defisit anggaran.

Tidak mudah memang memperjuangkan ide dimaksud. Ada tembok tinggi dan tebal yang menghadang karena terdapat kelompok yang mengambil keuntungan atas kebijakan energi nasional yang menempatkan Indonesia sebenarnya “belum merdeka”.

“Dibutuhkan daya juang dan keistikomahanmenghadapi kancah politik yang panas,” tutur Mulyadi.

Santri Pondok Pesantren ‘Saung Santri’ di Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat (Istimewa/Dok. PemiluUpdate.com)


Orang Tua Santri

Menggeluti bisnis dan dunia politik yang menyita waktu dan tenaga, Mulyadi tak lupa pada dunia pendidikan. Ia mendirikan satu pondok pesantren yang diberi nama “Saung Santri”. Pesantren ini dikhususkan bagi anak-anak, remaja, dan pemuda tidak mampu. Beberapa di antaranya anak yatim piatu. Karenanya gratis.

Pesantren Saung Santri yang berlokasi di Jonggol, Kabupaten Bogor, kini menampung 100 santri dari berbagai daerah se-Indonesia. Ada asal Papua, Jambi, Padang, Aceh, Banjarmasin, Poso (Sulawesi Tengah), Banten, dan lainnya. Mulyadi berarti orang tua bagi santri asal daerah se-nusantara.

Salah satu target pendidikan khusus kepada mereka yakni diarahkan menjadi generasi Al-Quran, menghafal dan mengimplementasikannya.

“Saung Santri diharap turut berperan memajukan Jabar, tentunya,” tukas Mulyadi. ()LMC


BIO DATA

Nama lengkap: Mulyadi
Tempat, tanggal lahir: Jonggol, Kabupaten Bogor, 2 November 1970
Jabatan: Ketua DPD Gerindra Jawa Barat
Alamat: Jl. Raya Jonggol, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, Jabar
Istri: Nuraisah Jamil
Anak: Nurfajrina Sabila Putri Mulyadi, Muhammad Sultan Ramadhan Putra Mulyadi, Nursabrina Saskia Putri Mulyadi


[Surel: pemiluupdate@gmail.com]

2 KOMENTAR

Leave a Reply to Kali Pertama Seremoni Sertijab Ketua DPD Partai Gerindra - Pemilu Update Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here