Khofifah Tersandera, Gus Ipul Belum dapat Penantang Kuat

Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf (Gus Ipul), salah seorang calon kuat dalam Pilkada Jatim 2018 (Istimewa/breakingnews.co.id)

SURABAYA, PemiluUpdate.com – Pengamat politik Universitas Trunojoyo Madura Mochtar W. Oetomo menilai dinamika Pilkada Jawa Timur (Jatim) 2018 monoton. Bahkan, menurutnya, mengalami kebuntuan.

Mochtar melandasi pandangannya itu berdasar sosok yang mendaftarkan diri sebagai bakal calon gubernur Jatim mendatang. Belum ada figur baru yang muncul.

Direktur Surabaya Survey Center (SSC) tersebut mengatakan sejauh ini posisi Wakil Gubernur Jarim Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa tak tergoyahkan. Seolah-olah kelas politisi lain jauh di bawah kedua tokoh ini.

Dikatakan, agar kontestasi perebutan kursi orang nomor satu di Jatim tidak monoton maka perlu didorong agar ada calon independen atau perseorangan yang berani maju. Provinsi terpadat kedua di Indonesia ini pasti memiliki putra-putri terbaik yang mampu mengemban tugas sebagai gubernur atau wakil gubernur.

Pada Pilkada 2013, hadir calon perseorangan yakni advokad Eggi Sudjana. Kehadirannya memecah kebuntuan politik yang saat itu dialami partai politik (parpol). Akhirnya erdapat empat pasang calon gubernur bersaing merebut simpati pemilih.

“Calon perseorangan di Jatim sudah waktunya muncul. Kebuntuan akan mencair begitu ada yang berani deklarasi sebagai calon independen. Partai pasti juga akan segera menentukan sikapnya,” papar Mochtar.

Terlepas calon independen nantinya diusung parpol, menurut Mochtar, soal belakangan. Hal ini terjadi pada Pilkada DKI Jakarta 2017. Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) awalnya maju sebagai calon independen sebelum parpol ramai-ramai merapat ke dirinya.

Figur yang pantas menjadi pesaing Gus Ipul dan Khofifah (belum resmi mendaftar ke partai walaupun sudah dinanti), antara lain La Nyalla Mattalitti. Dia dinilai memiliki basis massa yang cukup tinggi.

La Nyalla adalah pengusaha yang memimpin Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim. Pernah menjabat Ketua Umum PSSI yang membuat namanya terkenal seantero nasional. Juga Ketua Umum Majelis Pimpinan Wilayah (MPW) Jatim. Kepemimpinannya di lembaga dimaksud merupakan modal dasar La Nyalla.

Sosok lain yakni Hasan Aminuddin, anggota DPR RI dan mantan Bupati Probolinggi. Walaupun tercatat sebagai elit Nasdem tetapi partainya ini cuma memiliki empat kursi di DPRD Jatim. Hasan, kalkulasi Mochtar, juga pantas maju sebagai calon independen.

Tokoh lainnya yakni Nurwiyatno, inspektur Pemerintah Provinsi Jatim, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, dan Bupati Trenggalek Emil Dardak.


Dominasi Gus Ipul

Gus Ipul menjadi pendaftar pertama bakal calon Gubernur Jatim. Wakil Gubernur ini mengambil formulir pada hari pertama pembukaan pendaftaran di Partai Golkar Jatim pada awal pekan ini.

Masih menurut Mochtar, langkah Saifullah ini merupakan kelanjutan episode penyanderaannya terhadap Khofifah, rival beratnya. Menjadi pendaftar perdana juga dilakukannya di PDIP dan Partai Demokrat.

“Gus Ipul sadar betul jika Khofifah cenderung tidak mau mendaftar melalui partai di mana dia juga mendaftar. Begitu Golkar membuka pendaftaran Gus Ipul sengaja mendahului agar Khofifah kembali kehilangan momentum untuk mendaftar. Gus Ipul berhasil menerapkan politik ‘sandera’ untuk meminimalisir kemungkinan Khofifah mendapatkan tiket dari partai,” papar Mochtar.

Walaupun beberapa parpol sudah membuka pendaftaran, Khofifah yang mendapat dukungan berbagai elemen masyarakat belum juga nongol mengambil formulir.

“Bungkamnya Khofifah dan strategi PDIP yang kerapkali memutuskan kandidat resminya pada last minute membuat Pilkada Jatim menjadi monoton, berputar-putar, saling sandera, dan jalan di tempat,” tukas pengamat politik Mochtar.

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa (Istimewa/breakingnews.co.id)


Dukungan kepada Khofifah

Khofofah Indar Parawansa, tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang juga Menteri Sosial, mendulang dukungan di acara Temu Kiai dan Bedah Amanatul Ummah sekaligus Pembukaan Konferwil Persatuan Guru NU (PERGUNU) Jatim, beberapa waktu lalu.

Bertempat di Institut KH Abdul Chalim di Desa Bendungan Jati, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, para kiai dan ulama mendengungkan harapan kepada Khofifah turun gunung dengan target menjadi gubernur Jatim 2018-2023.

Bukti dukungan disampaikan dalam sebuah pernyataan sikap yang berisi lima hal. Selain dibacakan di hadapan ratusan kiai dan ulama juga mereka membubuhkan tanda tangannya di kain putih yang dibentangkan di halaman Institut KH Abdul Chalim.

“Indonesia belum adil dan makmur. Merdeka sudah 72 tahun tapi kemiskinan masih ada dan keadilan belum bisa ditegakkan,” tandas Pengasuh PP Amanatul Ummah KH Asep Saifuddin Chalim saat deklarasi dukungan.

Khofifah dinilai memenuhi kriteria pemimpin yakni shiddiq, amanah, fathonah, dan tabligh. Hal inilah yang menjadi dasar sekitar 500 kiai dan ulama di Jatim mendukung.

Menanggapi dukungan kepada dirinya, Menteri Sosial Khofifah mengaku tak menyangka. Dukungan ini, katanya, hasil proses alami. “Saya menyebut ini button of democracy. Ini freedom of expression,” katanya.

Namun, izin Presiden Joko Widodo kepada Khofifah untuk mengikuti kontestasi Pilkada Jatim 2018 belum juga keluar. ()SJT


[Surel: pemiluupdate@gmail.com]

Thanks for sharing

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here