Jelang Pilkada Kota Sukabumi Andri Hamami Nyebrang ke Demokrat, Benar atau Hoax?

Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik PD Muhammadiyah Sukabumi, Yana Fajar Basori. (Herry Febrianto/sukabumiupdate.com)

KOTA SUKABUMI, pemiluupdate.com – Tiga opsi pasangan calon (Paslon) yang dipersiapkan DPC Partai Demokrat Kota Sukabumi hingga memunculkan nama Andri Setiawan Hamami, guna mengantisipasi kemungkinan maju tidaknya Mohamad Muraz di Pilkada 2018 menjadi pertanyaan berbagai pihak.

Seperti diberitakan sukabumiupdate.com, sebelumnya, Ketua Bidang Humas dan Publikasi DPC Partai Demokrat Kota Sukabumi, Aldo Andreas Darmawan menyebutkan opsi pertama yakni Mohamad Muraz tetap akan disandingkan dengan dengan Achmad Fahmi jika memutuskan kembali maju mencalonkan di Pilkada. Sehingga peluang Mufakat Jilid II kembali terjadi di Kota Sukabumi.

Sementara opsi kedua, Mohamad Muraz- Andri Setiawan Hamami (MANDIRI). Namun jika tidak mencalonkan kembali, lalu opsi ketiga Partai Demokrat akan mengusung pasangan Achmad Fahmi-Andri Hamami (FAHAM).

Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sukabumi, Yana Fajar Basori menilai, idealnya Partai Demokrat harus mengusung kader internalnya. Kecuali selama lima tahun berkuasa tidak mempersiapkan calon untuk maju di Pilkada.
Yana justru mempertanyakan munculnya nama Andri yang notabene merupakan kader Golkar dalam tiga opsi yang dipersiapkan Partai Demokrat dan bukan Jona Arizona sebagai Ketua DPD Golkar Kota Sukabumi.

“Kita analisa yang tampak dipermukaan secara nyata jika Ketua Golkar adalah Jona, lalu apa yang menyebabkan nama Andri begitu kuat muncul. Atau mungkin mereka (Andri-Demokrat-red) sudah sepakat, itu hak mereka,” katanya.
Menurut Yana, Andri dan Jona pernah sama-sama kalah di Pilkada 2013. Lalu sekarang tiba-tiba muncul nama Andri dalam tiga opsi calon yang dipersiapkan Partai Demokrat. “Jangan-jangan opsi tersebut hanya berita hoax,” katanya.

Yana tidak menampik, jika dalam pengambilan keputusan politik dipengaruhi dari kalangan internal dan eksternal partai. “Tidak percaya jika Demokrat mendorong kader yang lain, karena logika kekuasaan senantiasa menciptakan situasi keberlanjutan kekuasaannya. Karena itu , kader internal menjadi niscaya,” pungkasnya. ()Herry Febrianto

Sumbersukabumiupdate.com
Thanks for sharing

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here